Sate identik dengan daging kambing atau sapi. Di Sidoarjo, Jawa Timur, berkat ide kreatifnya, seorang lelaki paruh baya berhasil mengkreasikan menu sate ikan patin yang dipadukan dengan urap-urap. Selain lezat, sate ikan patin ini bisa menjadi menu alternatif bagi penderita hipertensi karena kandungan lemaknya rendah sedangkan proteinnya tinggi.
Warung sate ikan patin yang terletak di Jalan Raya Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, ini adalah milik Muriadi atau akrab disapa Cak Murek. Pria asal Desa Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo, ini berhasil menciptakan menu sate dari daging ikan patin segar yang diambil dari kolam tambaknya sendiri.
Untuk membuatnya, sate ikan patin diproses dengan cara sederhana. Ikan patin segar terlebih dahulu dibersihkan, dipotong, lalu diambil dagingnya agar terpisah dari duri. Setelah terpisah, daging kemudian dipotong menjadi ukuran kecil sebagaimana ukuran daging sate pada umumnya. Sama seperti sate lainnya, daging ikan patin yang sudah dipotong-potong selanjutnya dimasukkan ke dalam tusukan.
Setelah siap, daging ikan patin dibakar hingga kadar lemaknya turun. Agar rasanya lebih nikmat, daging sate ikan patin diolesi bumbu spesial yang merupakan campuran dari rempah-rempah dan madu murni.
Selanjutnya, sate ikan patin yang sudah matang diolesi lagi dengan bumbu khusus yang sudah disipakan. Dan untuk melengkapinya, sate ini disajikan dengan urap-urap sehingga menjadi menu sate ikan patin plus urap-urap khas Sidoarjo.
Untuk satu porsi yang terdiri dari lima tusuk sate ditambah urap-urap plus teh hangat, Cak Murek mematok harga Rp12 ribu. Yang menggembirakan, sate ikan patin ternyata berkhasiat juga untuk para penderita hipertensi atau darah tinggi dan kegemukan. Pasalnya, kandungan lemak ikan patin hanya 2 persen sedangkan proteinnya 65 persen dan kalori 48 persen sehingga sangat aman bagi kesehatan.
“Saya merasa sangat puas dengan sajian sate ikan patin ini, rasanya berbeda dibanding sate pada umumnya,” kata Mohammad Suhardi, salah satu pembeli sate ikan patin.
Ide berkreasi mendirikan warung sate ikan patin awalnya karena Cak Murek ingin memanfaatkan sisa hasil panen kolam ikan miliknya. Setelah melalui berbagai percobaan olahan ikan, akhirnya dia memutuskan untuk memanfaatkan sisa ikan hasil panen ini menjadi sajian sate ikan patin.
Tidak butuh waktu lama karena hanya dalam lima bulan sejak warung ini buka, dia sudah memiliki pelanggan setia. Bahkan pada hari libur, banyak pembeli dari luar kota yang mampir di warung miliknya.
“Semua bermula dari saya punya kolam ikan patin, sekarang dalam sehari saya bisa menghabiskan 40 kilogram daging ikan patin segar untuk disajikan menjadi sate. Biasanya bertambah pas akhir pekan atau liburan,” tutur Cak Murek.
Untuk mengembangkan usahanya, dia berencana membuka cabang di Kota Malang, Jawa Timur, karena sebagian besar pelanggannya selain berasal dari Kota Sidoarjo juga berasal dari Kota Pasuruan dan Malang. Selain sate ikan patin, warung milik Cak Murek ini juga menyediakan batok kepala dan badan ikan patin menjadi gulai. (Sumber : Okefood)

















