Bagi sebagian masyarakat budidaya ikan kolam menggunakan terpal belum begitu menjanjikan, namun tidak bagi Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Kabupaten Pelalawan.
Pasalnya, dengan memanfaatkan lokasi yang sempit serta material apa adanya dengan harga murah, hasil kolam terpal begitu menjanjikan.
Demikian disampaikan Kadiskanlut Pelalawan Ir Arizal MSi didampingi Kabid Perikanan Budidaya Ikhwanul Syah, saat ditemui di kolam uji coba perdana, Selasa (25/2) kemarin.
Dikatakan Arizal, bahwa dengan ukuran kolam 2×4 meter persegi bisa membudidayakan ikan lele dan patin sampai 2.000 ekor.
Sedangkan hasilnya cukup lumayan untuk tahap percobaan. Dengan hanya menunggu kurang lebih 5 bulan, 2.000 bibit patin dan juga lele (kolam berbeda, red) berhasil dipanen dengan memuaskan.
‘’Untuk ikan patin saat kami panen beratnya 5-6 ekor per kilogram dengan harga jual Rp15 kilogram per kilogram. Lebih 300 kilogram dihasilkan dari panen perdana ikan patin. Ikan tersebut memang untuk disalai. Ke depannya Budidaya menggunakan kolam terpal ini nampaknya sangat menjanjikan bagi masyarakat,’’ terang Kadiskanlut.
Dijelaskannya, bahwa program uji coba pengembangan budidaya ikan kolam terpal dimulai dengan penaburan bibit ikan patin dan lele pada Juli 2013 lalu.
‘’Sedangkan uji coba ini bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan atau teknologi budidaya ikan yang lebih efektif dan peningkatan produksi. Khusus untuk komoditas ikan yang cocok diterpal ini baru kami lakukan ikan lele dan patin,’’ bebernya.
Arizal mengungkapkan, bahwa biasanya, dengan menggunakan kolam tanah padat tebar ikan patin 10-15 ekor per meter per segi.
‘’Dengan menggunakan kolam terpal bisa diaplikasikan 250-450 ekor per meter per segi. Dari berbagai segi tentu ini sangat menguntungkan,’’ paparnya.
Namun, sambung Kadis, bahwa ada trik khusus agar kolam terpal ini bisa menghasilkan panen yang memuaskan.
‘’Dan hal inilah yang baru kami lakukan dan menjadi kuncinya dengan menambahkan obat untuk meningkatkan kualitas air. Obat ini, melakukan pengolahan senyawa kotoran ikan dan pakan yang biasanya menjadi toksin menjadi pakan alami, sehingga mampu meningkatkan kualitas air,’’ ujarnya seraya menyebutkan trik khusus menggunakan teknologi baru tersebut.
Kemudian, lanjut Arizal, setelah penebaran bibit pada Juli, maka pada Desember 2013 lalu atau dalam jangka waktu kurang lebih 5 bulan, kolam terpal dengan teknik baru tersebut sudah membuahkan hasil yang menggembirakan.
‘’Hasilnya sangat lumayan, karena material pembuatan kolam terpal atau juga bisa bekas baliho ditambah papan bekas, plus EM4 dengan harga murah serta pakan, bisa menghasilkan 5-6 ekor perkilogram khusus untuk ikan salai dan ditolak dengan harga Rp15 ribu per kilogramnya,’’ sebutnya.
Namun demikian, karena program kolam terpal ini masih dalam tahap uji coba pengembangan budidaya, maka Diskanlut baru akan meluncurkan program ini menjadi program percontohan untuk masyarakat pada 2015 mendatang.
‘’Tapi, jika masyarakat ingin mengetahui program ini lebih detil, kami bersedia memberikan informasi teknisnya. Dan kedatangan masyarakat ke kantor Diskanlut Pelalawan, sangat kami harapkan,’’ tutupnya. (Sumber : RiauPos)

















