Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng LIPI dan BPPT untuk mencari cara mengangkat limbah pakan di bawah jaring terapung untuk mengurangi dampak penyakit ikan.
“Limbah pakan di perairan jaring terapung semakin menebal dan berdampak timbulnya penyakit ikan. KKP menggandeng LIPI dan BBPT guna mencari cara mengangkat limbah pakan itu yang efektif,” kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Coco Kokarkin Soetrisno di Bandung, Rabu.
Ia menyebutkan, limbah pakan di dasar perairan kawasan jaring terapung itu kian menebal dan sangat potensial membunuh ikan-ikan bila terjadi “upwelling” atau arus bawah yang mengangkat material limbah pakan ke permukaan.
Selain itu sejumlah penyakit ikan juga bisa tumbuh dengan adanya limbah pakan yang berlebihan itu karena mengakibatkan kandungan oksigen dalam air berkurang.
“Limbah pakan yang terdampar di dasar itu sebenarnya sangat baik untuk pupuk tanaman sayuran dan buah-buahan, namun belum ada cara yang efektif untuk mengangkatnya,” kata Coco.
Pihak KKP mendorong program perikanan dengan pertanian dalam program “Bumina Yumina”, namun sejauh ini belum ada cara yang bisa mengangkat pakan ikan itu secara efektif dan tepat.
Ia mencontohkan di perairan Waduk Cirata, ketebalan limbah pakan ikan itu sudah mencapai dua meter, dan sangat potensi membunuh ikan pada saat terjadi upwelling.
“Ketebalan limbah pakan di Cirata contohnya sudah mencapai dua meter, bila itu bisa diangkat dan menjadi pupuk mungkin akan lebih baik. Kami terus mencari cara untuk itu,” katanya.
Masalah limbah pakan itu menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh petani ikan budidaya disamping masalah bibit, penyakit dan juga obat-obatan yang masih tergantung impor. Di sisi lain kepadatan jaring terapung di kawasan peraira yang juga sudah terlalu padat.
“Di Cirata contohnya terdapat 50 ribuan jaring, padahal idealnya tidak lebih dari 15 ribu. Ini juga menjadi penyebab penyebaran penyakit ikan,” kata Coco Kokarkin Soetrisno. (Sumber : Sinar Harapan)

















