Budidaya Lele Kendal Tak Lagi Kelas Comberan

panenlele

Tak ada yang mengira jika Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, yang dahulu didominasi persawahan, kini berubah menjadi hamparan kolam budi daya lele.

Budi daya lele semula dipandang sebelah mata. Bahkan banyak yang menganggap kegiatan ini sebagai bisnis “kelas comberan” yang sepele. Banyak yang mengira bahwa budi daya lele dilakukan serampangan, jorok, dan tidak memperhatikan kesehatan.

Terkait dengan upaya mengubah citra budi daya lele bukan lagi sebagai budi daya kelas comberan, sekelompok petani kreatif yang tergabung dalam Kelompok Pembudi daya Ikan (Pokdakan) Sido Makmur Desa Tambaksari mengembangkan budi daya lele sistem klaster (pengelolaan dalam satu wilayah secara terpadu), di lahan persawahan seluas dua hektare.

Darmanto, penyuluh perikanan lapangan (PPL) bercerita, “Mula-mula salah seorang petani mencoba memelihara lele sekitar 15.000 ekor dan ternyata hasilnya menguntungkan. Sebagai perbandingan, hasil keuntungan bersih dua kolam lele berukuran 100 meter persegi sama dengan keuntungan menanam padi di lahan seluas 2.000 meter persegi.”

Sekali panen, dari satu kolam berisi 15.000 bibit lele bisa diperoleh keuntungan bersih rata-rata Rp 1,5 juta. Dengan usaha itu, di Tambaksari kini bermunculan juragan lele yang mampu membeli kendaraan, sementara rumah mereka juga bisa dipercantik.
Dengan melihat keberhasilan dan keuntungan itu, kemudian diikuti oleh puluhan orang yang mengubah areal persawahan menjadi kolam. Tak heran jika nama desa tersebut kini lebih dikenal sebagai “kampung lele”.

Hasilnya, budi daya lele kemudian ditiru di mana-mana. Lele kini menjelma menjadi industri rakyat Kendal. Nilai perdagangannya setiap tahun mencapai miliaran rupiah, penyerapan tenaga kerja, nilai tambah, dan multiplier effect yang dihasilkan juga besar.

Semakin besar lagi perputaran ekonomi kalau menghitung berapa ratus pedagang di seluruh Kendal berjaya berkat lele, baik dalam bentuk warung tenda maupun produk olahan.

“Karena berpotensi besar, di Kendal giat dilakukan pengembangan usaha berbasis lele dengan kampanye makan lele. Apalagi seiring melemahnya daya beli masyarakat akibat berbagai tekanan ekonomi, lele semakin diminati. Selain murah, kandungan proteinnya tinggi,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kendal, Ir Tjipto Wahjono.

Kepala Seksi Pengembangan Produksi Perikanan, Joko Suprayoga menambahkan, “Budi daya ikan lele sebagai salah satu alternatif pencaharian terus digalakkan. Sebab, budi daya lele memiliki beberapa keunggulan, yaitu dapat dibudi dayakan di lahan dan sumber air terbatas dengan padat tebar tebar tinggi; teknologi budidayanya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat; pemasarannya relatif mudah; pertumbuhan lele cepat dan tahan terhadap penyakit; menyerap banyak tenaga kerja; dan modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.”

Apalagi prospek budi daya lele begitu cerah dan menjanjikan. Untuk pasar domestik misalnya, dijual dalam bentuk lele mentah di pasar-pasar. Sementara yang matang dijual dalam bentuk pecel lele yang saat ini sedang menjamur dan digemari di mana-mana.

Konsumen lele juga menyebar luas, dari desa hingga ke kota. Tidak saja rakyat jelata yang makan di warung-warung tenda dengan sambal terasi dan lalapan, tetapi merambah ke konsumen menengah atas. Perubahan status sosial komoditas lele telah merangsang tumbuhnya berbagai inovasi usaha dalam teknologi pengolahan pangan.

Tanpa disadari, kini budi daya lele marak di seantero Kendal. Komoditas perikanan air tawar ini, kini menjelma menjadi industri rakyat. Dibudidayakan lebih dari 1.440 orang dengan luas areal kolam 18.200 meter persegi. Nilai perdagangannya setiap tahun mencapai miliaran rupiah.

Coba hitung, data pada 2011 menunjukan produksi lele Kendal mencapai 594.840 kg. Apabila dirupiahkan, produksi lele tersebut senilai Rp 5,94 miliar, dengan asumsi harga lele konsumsi Rp10.000 per kilogram. Luar biasa bukan? (jokosuprayoga)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

One Comment on "Budidaya Lele Kendal Tak Lagi Kelas Comberan"

  1. danu rahardian June 20, 2012 at 12:44 pm - Reply

    saya tertarik dengan budidaya Lele.
    mungkin kita bisa diskusi masalah budidaya lele…
    saya bisa minta contact..nya ?
    terima kasih

Leave A Response