Bakteri aeromonas menyerang ikan milik warga di Kota Banjar, menyebabkan kematian massal benih ikan di kolam. Kemarau panjang yang berdampak pada minimnya pasokan air diduga kuat menjadi penyebab utama tingginya serangan tersebut.
Umumnya yang terserang bakteri aeromonas adalah jenis ikan yang oleh masyarakat disebut dengan ikan putihan seperti ikan mas, gurami,nilem termasuk lele. Serangan tersebut diperkirakan bakal berlangsung lama, seiiring dengan datangnya musim kemarau.
Serangan bakteri aeromonas tersebut banyak ditemukan di Kecamatan Langensari dan Pataruman, yang selama ini dikenal sebagai daerah sentra ikan. Di wilayah lainnya juga terdapat serangan tersebut, akan tetapi tidak separah di dua tempat tersebut.
Umumnya ikan yang terserang bakteri aeromonas ditemukan pada kolam yang airnya tidak mengalir atau tergenang. Kolam teresbut tidak memiliki sistem sirkulasi air, sehingga airnya tidak pernah diganti.
“Serangan sudah berlangsung lebih dari sepekan. Ikan yang sudah terserang bakal tidak mampu bertahan lama, ditemukan sudah mati,” ungkap salah seorang peternak ikan di Rejasari, Kecamatan Langensari, Aep.
Ia mengungkapkan, proses kematian ikan yang terserang bakteri berlangsung sangat cepat. Secara fisik terdapat bercak merah pada tubuh ikan. bagian insang juga tampak pusat. Akibat kejadian tersebut Aep mengaku mengalami kerugian cukup besar.
“Ya kalau dihitung rugi banyak. Tidak hanya satu atau dua kolam yang terserang, tetapi banyak kolam warga mengalami nasib serupa,” ujarnya.
Petani lainnya, Opik juga mengaku hal serupa. Dia menambahkan, umumnya air kolam yang dimanfaatkan untuk mengisi kolam berasal dari aliran air Sungai Citanduy. Serangan bakteri yang berdampak kematian massal ikan tersebut, lebih banyak terjadi pada saat musim kemarau.
“Biasanya saat kemarau tingkat kematian ikan sangat tinggi. Kami khawatir jika hal itu berlanjut,” ujarnya.
Terpisah Kepala Bidang Perikanan dan Peternakan Dinas Peternakan Kota Banjar Ngadimin membenarkan adanya kasus kematian massal ikan tersebut. Berdasar hasil pemeriksaan fisik, kematian ikan tersebut disebabkan akibat terserang bakteri aeromonas.
“Begitu ada informasi, kami ke lokasi. Dari hasil pemeriksaan fisik, termasuk sampel yang kami kirim ke laboratorium Balai Karantina ikan Cirebon, kematian ikan tersebut positif terserang bakteri aeromonas,” katanya.
Serangan tersebut, jelas dia, meningkat tajam terutama pada saat musim kemarau. Hal itu disebabkan karena buruknya kualitas air yang berada di kolam. Minimnya sanitasi air mengakibatkan kandungan bahan organiknya meninggi akibat perubahan iklim, kemarau.
“Penyebarannya tidak hanya melalui perantaraan air, akan tetapi juga peralatan, tumbuhan air, termasuk penularan dari ikan yang terserang kepada ikan sehat. Berdasarkan pantauan lapangan, memang kualitas air buruk, air di kolam menggenang atau tidak diganti. Kondisi tersebut ideal untuk berkembangbiaknya bakteri aeromonas,” katanya.
Ngadimin mengungkapkan, ikan yang rentan terserang di antaranya ikan mas, nilem, gurami, termasuk lele. Sedangkan ikan jenis lainnya seperti nila, lebih tahan dari serangan bakteri tersebut.
“Yang pasti musim kemarau tidak cocok untuk pendederan ikan putihan seperti mas, nilem. Kualitas air merupakan faktor utama keberhasilan dalam budidaya ikan,” tuturnya.
Lebih lanjut Ngadimin mengatakan bahwa pada bulan Mei - Juli tidak cocok untuk budidaya ikan. Hal itu disebabkan karena bersamaan dengan musim kemarau. Akibatnya pasokan air terbatas, sehingga air menjadi kotor, tercemar dan lainnya.
“Untuk kolam yang sistem pengairannya bagus, tidak sampai kekurangan pasokan air, masih lebih aman dari serangan tersebut. Akan tetapi untuk kolam yang airnya tergenang lebih rawan,” tambahnya. (pikiranrakyat)

















