Sebanyak 275 unit pembibitan ikan air tawar yang terdapat di Kabupaten Temanggung ternyata belum dapat memenuhi kebutuhan akan bibit di daerah ini. Oleh karenanya, bibit ikan masih didatangkan dari daerah lain. Padahal, kabupaten Temanggung sangat potensial sebagai Pusat pembibitan ikan, mengingat saran pendukung tersedia.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Temanggung, Slamet Sariyono disela-sela rapat koordinasi minapolitan kabupaten Temanggung, Rabu (28/5/2014). Hadir dalam itu Ditektur Sarana dan Prasarana Perikanan Budidaya Dirjen Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan RI, Dwika Herkiawan dan Wakil Bupati Irawan Prasetyadi.
Menurut Slamet, dari 275 unit pembibitan tersebut batu dapat menghasilkan sekitar 69.223.000 ekor per-tahun, sementara kebutuhan bibit ikan di daerah ini setiap tahun mencapai sekitar 150 juta ekor.”Oleh karena itu, kekurangan akan bibit tersebut kebanyakan dibeli Dati luar daerah. Ini kan ironis mengingat berbagai sarana dan prasarana cukup tersedia untuk pengembangan pembibitan ikan,” paparnya.
Ia menjelaskan, ketersediaan lahan budidaya ikan air tawar daerah ini untuk kolam mencapai 489 hektar, sementara lahan yang dimanfaatkan petani (warga) hanya 119 hektar (24 persen) saja. Sedangkan untuk lahan persawahan mencapai 19.883 hektar dan yang dimanfaatkan untuk budidaya Ikan baru 3.035 hektar (16 persen).
Sementara tingkat produksi bibit ikan ai tawar tahun 2013 di kolam mencapai 3.200 ton (193 Kg/hektar).,sementara produksi ikan di persawahan sebesar 1.400 ton (445 Kg/hektar). Sementara produksi ikan konsumsi sebesar 3.912 ton/ tahun, sementara kebutuhan 11.500 ton/tahun.
Slamet menjelaskan, jumlah pembudidaya ikan air tawar di daerah Temanggung mencapai 38.480 orang. Jumlah tersebut menurut Slamet dinilai belum optimal, mengingat daerah memiliki sumber air yang cukup melimpah, baik sumber dari mata air, sungai/jaringan irigasi dan cek dam.
Ia menunjuk contoh jumlah sumber mata Ir mencapai 495 unit, sumber air sungai/jaringan irigasi panjangnya mencapai 885 Km (1.426 hektar), dan sumber air dari cek dam sebanyak 13 hektar dan hang dimanfaatka baru sekitar 0,01 hektar saja.”Yang menggunakan air cek dam itu hanya warga yang berada di seputar cek dam saja,” terangnya. (Sumber : KR Jogja)

















