Pemberdayaan pertanian dalam arti luas, terus menjadi prioritas pembangunan Jawa Tengah, sesuai dengan misi ke-2 Gerakan Bali Ndeso Mbangun Deso, yakni pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan intensifikasi pertanian dalam arti luas, UMKM, dan industri padat karya.
Gubernur Jawa Tengah, H Bibit Waluyo, saat membuka Rakor Mina Padi di Gedung B Setda Prov Jateng, belum lama ini, menjelaskan, sekarang ini, upaya pemberdayaan pertanian arti luas yang mencakup pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan, semuanya menunjukkan hasil yang semakin maju.
Cara bercocok tanam melalui penerapan Sapta Usaha Tani secara benar, ditambah optimalisasi lahan dengan modernisasi pertanian, baik peralatan pertanian, bibit, pupuk, hingga penanganan pascapanen, menjadi kunci keberhasilan pertanian. Untuk menghindari berkurangnya lahan produktif, alih fungsi lahan harus benar-benar dihindari.
Dalam rangka memantapkan misi ke-2 tersebut, optimalisasi pembangunan sektor pertanian, khususnya persawahan lahan basah dan meningkatkan pendapatan petani, dapat dipacu dengan upaya diversifikasi usaha pertanian.
Salah satunya, dengan sistem klaster yang memadukan antara penanaman padi di lahan basah, sekaligus memelihara ikan pada lahan padi yang sama, atau sering disebut sebagai mina padi.
Saat ini telah dicanangkan program Gerakan Nasional Sejuta Hektare Mina Padi (Gentanadi), dengan target dan sasaran areal sawah sejuta hektar, dan produksi sejuta ton hingga akhir 2013.
Gerakan Gentanadi adalah upaya diversifikasi usaha pertanian melalui mina padi yang sangat penting. Sebab, saat ini anomali iklim dapat mengakibatkan kegagalan panen padi. Jadi, upaya mina padi ini sangat diperlukan karena mempunyai dampak yang baik untuk para petani dan masyarakat.
Sistem mina padi merupakan cara pemeliharaan udang atau ikan di sela-sela tanaman padi (Integrated Fish Farming/ IFF), sebagai penyelang diantara dua musim tanam padi, atau pemeliharaan ikan sebagai pengganti palawija di persawahan.
Jenis ikan yang dapat dipelihara pada sistem tersebut bermacam-macam. Seperti, ikan mas, nila, mujair, karper, tawes, lele, dan sebagainya.
Ikan mas dan karper merupakan jenis ikan yang paling baik dipelihara di sawah, karena ikan tersebut dapat tumbuh dengan baik meskipun di air yang dangkal, serta lebih tahan terhadap matahari. Tidak hanya itu, udang pun bisa dibudidayakan di sela-sela tanaman padi.
Sistem tanam yang sering diterapkan pada mina padi, adalah sistem jajar legowo, yang dikenalkan oleh Bapak Legowo, Kepala Cabang Dinas Pertanian Rakyat Kabupaten Banjarnegara pada era 1970-an.
Cara yang sudah banyak dikenal masyarakat tersebut, dilakukan dengan menanam padi di sekitar pematang. Banyak keunggulan yang didapat dari cara semacam itu.
Selain jumlah anakan produktifnya lebih banyak, gabah yang dihasilkan juga berkualitas, mudah membersihkan gulma atau rumput yang mengganggu, mudah memberantas hama wereng, mudah melakukan pemupukan dan hemat pupuk, mudah melakukan pengaturan air irigasi, mudah dalam memanen, juga bisa memperbaiki tekstur tanah.
Di samping itu, sistem tanam jajar legowo ini sangat cocok jika dipadukan dengan konsep mina padi, karena tidak berpengaruh terhadap luas lahan, dan bisa diterapkan di lahan yang sempit.
Jadi, padinya bisa ditanam di sekitar pematang, sedangkan ikannya bisa dibudidayakan di lahan yang sama. Konsep klaster seperti inilah yang perlu digalakkan, jadi tidak hanya meningkatkan produksi beras, tapi juga meningkatkan budidaya perikanan darat.
“Jenis ikan yang dibudidayakan juga bisa bermacam-macam, mulai dari nila atau mujair, bawal atau jenis ikan air tawar lainnya. Dengan demikian, selain petani bisa panen padi, juga bisa panen ikan, sehingga menambah penghasilannya.
Sedangkan kalau petani yang punya sawah tidak bisa mengelola budidaya ikan, bisa bekerjasama dengan petani budidaya ikan. Jadi ada sharing atau kerjasama dengan memanfaatkan lahan yang sama dan tentunya ada kesepakatan bagi hasil, sehingga sama-sama diuntungkan dan bermanfaat,” jelas Bibit.
Namun, tidak semua sawah bisa dikembangkan dengan mina padi. Hanya sawah dengan irigasi yang baik, yang dapat dikembangkan untuk memelihara ikan. Agar pertumbuhan tanaman padi tidak terganggu, pemeliharaan ikan di sawah harus disesuaikan dengan sistem pengairan yang ada, sehingga produksi padi tidak terganggu.
Tambah Keuntungan 100 Persen
Di Jawa Tengah, sistem mina padi sudah dilakukan di sejumlah wilayah. Hingga 2011 luas lahan untuk minapadi di Jawa Tengah baru mencapai 1.054 hektar, dengan produksi ikan sebanyak 2.255 ton. Tetapi, potensi lahan budidaya sawah (mina padi) di provinsi ini, mencapai 383.262 hektar, dengan luas sawah yang diusahakan 3.003,2 hektar. Nilai produksinya melebihi Rp 526,414 juta.
Salah satunya upaya mina padi, dilakukan Kelompok Tani Sri Rahayu, Desa Mertasari, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, dengan budidaya terpadu udang galah dan padi (ugadi), yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah.
Tanpa harus memperluas lahan sawah, budidaya udang galah dengan padi dapat meningkatkan pendapatan. Karena selain tidak mengurangi hasil padi, juga mendapatkan keuntungan dari budidaya udang galah yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Selain itu, kotoran udang galah yang mengandung berbagai unsur hara, dapat menyuburkan tanah. Biaya pemupukan pun bisa dikurangi.
Pengelolaan tanah sawah dilakukan seperti yang biasa dikerjakan petani. Namun, konstruksinya perlu disiapkan dengan penambahan saluran keliling (kamalir) untuk menghindari serangan hama (burung, ular, atau musang air), mengatasi bahaya kekeringan karena penguapan air yang tinggi, maupun mencegah meningkatnya temperatur air akibat panas sinar matahari.
Selain itu, juga dilakukan peninggian pematang yang kuat untuk menahan air, dan pembuatan kobakan yang dilengkapi pembuangan air pipa PVC.
Jenis padi yang digunakan adalah padi yang tahan air, seperti Inpari 13 atau Inpara 5. Jumlah tanam dua batang padi dengan jarak tanam 20 sentimeter.
Penebaran udang galah tokolan II berumur 60 hari (6-8 gram per ekor) dilakukan setelah padi berumur 10 hari, dengan padat tebar 5-10 ekor per meter2. Setelah padi berumur 100 hari dan siap dipanen, udang yang berumur 90 hari pun sudah dapat dipanen.
Budidaya udang galah padi yang mereka lakukan, mampu memberikan tambahan penghasilan bagi petani. Satu hektare lahan padi yang ditebar 10 ribu bibit udang, dapat penghasilkan 1,5 ton udang, dengan harga jual Rp 60 ribu per kilogram.
Keuntungan yang diperoleh untuk pemberdayaan udang galah di lahan pertanian seluas 1.000 meter2, mencapai lebih dari Rp 6 juta.
Pengembangan mina padi juga dilakukan di Dusun Krajan, Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Di tempat tersebut, sedikitnya 141 hektare lahan ditanami padi dengan dipadukan budidaya ikan nila merah.
Hasilnya, sangat menguntungkan. Saat hanya ditanami padi, keuntungan yang diraih sebesar Rp 3,3 juta per hektar. Namun, setelah menerapkan cara mina padi, keuntungan yang diperoleh mencapai Rp 6,6 juta per hektar, atau bertambah 100 persen.
Mengingat mina padi memberikan hasil yang sangat menguntungkan petani, dengan nilai tambah dari produksi udang atau ikan, maka penanaman padi secara jajar legawa dengan sistem mina padi diharapkan dapat dikembangkan di seluruh wilayah Jawa Tengah, yang memiliki ketercukupan air. Apalagi, ditunjang dengan ilmu dan teknologi yang memadai, serta pasar yang terbuka luas.
Seluruh komponen pendukung perikanan harus diberdayakan secara optimal, baik itu sumber daya manusia (SDM), tata kelembagaan, teknologi dan permodalan. Kerja sama antar petani, gapoktan, maupun pelaku usaha pertanian terus ditingkatkan, untuk meningkatkan SDM dan tata kelembagaan.
Pengembangan teknologi dapat dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah daerah, swasta, perguruan tinggi, dan pihak terkait lainnya. Misalnya, dalam pengelolaan, pembibitan, maupun penanganan pascapanen.
Terkait dengan permodalan, pemerintah memiliki program Pengembangan Usaha Mina Perdesaan (PUMP), yang dapat dimanfaatkan dengan baik. Pemberian modal bukan hanya untuk nelayan, pengolah atau pelaksana industri hilir perikanan, tetapi juga pembudidaya yang dapat mendorong penumbuhan wirausaha skala kecil.
Pemberian modal dapat didukung pula dengan peningkatan ketrampilan, fasilitasi kemitraan, penyediaan induk unggul pembibitan, serta pembangunan sarana pengolahan usaha skala kecil.
“Jadi gentanadi ini tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan perikanan budidaya dalam mendukung ketahanan pangan, tetapi juga dapat mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal ini, analisis tetap harus dilakukan untuk menyusun konsep mina padi yang sesuai dengan daerahnya masing-masing. Sehingga mampu meningkatkan target luas areal dan target produksi ikan di Jawa Tengah,” tandas Gubernur. (Sumber : Humas Jateng)

















