Pada konferensi Infofish Tilapia di Malaysia akhir tahun 2010, Helga Josupeit dari Badan Pangan Dunia memprediksi, kebutuhan produk olahan nila di Amerika Serikat (AS) akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Faktanya, ungkap Helga, angka impor produk olahan nila terus membesar. Sebanyak 173.700 ton pada 2007, 179.400 ton di 2008, 183.400 ton pada 2009 dan 97.000 ton di semester pertama 2010.
Dari angka impor tersebut, 50 %-nya berupa produk fillet beku, 30 % nila utuh beku, dan 20 % fillet segar. Negara pengekspornya adalah China yang menguasai sekitar 70 % dari total impor AS. Sisanya dipasok oleh Taiwan, Indonesia, Thailand dan negara-negara Amerika Latin.
Prediksi terkait peningkatan kebutuhan itu didasarkan pada kian tingginya popularitas produk olahan nila di masyarakat AS. Helga mencatat, meski terjadi resesi ekonomi di AS hingga mengakibatkan penurunan konsumsi produk perikanan sampai 1,25 % pada 2009, tingkat konsumsi produk olahan nila tetap meningkat. Bahkan saat ini nila telah menjadi ikan terpopuler nomor 2 di AS dan nomor 5 dari semua produk olahan perikanan.
Peluang Produk Olahan Nila Indonesia Geser Cina di Pasar AS
Commercial General Manager PT Bumi Menara Internusa—perusahaan pengolahan dan pengekspor produk perikanan—Winny Sutanto mengatakan, konsumsi produk olahan nila khususnya di AS, meningkat karena harga ikan salmon dan udang meningkat cukup tinggi. Akibatnya konsumen produk perikanan mencari produk alternatif yang murah, tapi dengan tekstur dan rasa yang tak jauh berbeda. “Karena itu dipilihlah produk olahan nila,” katanya.
Menurut Winny, besarnya kebutuhan AS akan produk olahan nila merupakan peluang bagi Indonesia untuk memperbesar angka ekspor ke Negeri Paman Sam itu. Pasalnya, meski harga produk olahan nila asal China yang diekspor ke AS murah, tapi kualitasnya kurang baik karena berbau lumpur (muddy smell).
Selain itu ada konsumen di AS yang “anti” produk olahan nila asal Negeri Panda tersebut dan lebih memilih produk dari Indonesia dan Thailand. “Kedua hal itu merupakan peluang bagi Indonesia untuk mengambil pangsa pasar produk olahan nila AS yang dikuasai China,” tukasnya.
Perihal spesifikasi, urai Winny, AS mensyaratkan produk olahan nila yang bebas antibiotik. “Bila ternyata terdeteksi ada kandungan antibiotik, maka produk yang kita kirim pasti dipulangkan kembali,” tegasnya. Selain itu, konsumen AS menginginkan produk olahan nila yang tidak berbau lumpur dan tekstur dagingnya tidak terlalu lunak. “Untuk warna, bila dijual utuh, konsumen menginginkan warna yang polos hitam dan polos merah,” sebut Winny.
Sedangkan untuk ukuran, angka 700 gram ke atas disebut Winny merupakan ukuran favorit dari konsumen AS. Tuturnya, ukuran ini lah yang menjadi tantangan bagi Indonesia untuk bersaing dengan China. China bahkan mampu memproduksi nila dengan ukuran 800 gram ke atas dengan biaya produksi yang murah, sehingga harga jualnya tidak masuk akal bagi pesaingnya. “Makanya kalau mau menggeser China, kita harus mampu memproduksi nila dengan ukuran 700 gram ke atas,” tuntut Winny.
Tambahnya, sejauh ini angka ukuran nila sebesar itu hanya mampu dipenuhi oleh Aquafarm Indonesia, sedang pembudidaya kita masih terkendala dengan tingginya biaya produksi untuk mencetak nila sebesar itu. Meski pembudidaya terkendala pada tingginya biaya produksi untuk mencetak ukuran 700 gram ke atas, tapi Winny mengatakan bahwa perusahaannya berani membeli nila dari pembudidaya dengan ukuran 300 gram ke atas.
Nila ukuran ini akan diolah menjadi fillet, lalu diekspor ke AS. Ia menginformasikan, saat ini perusahaannya telah melakukan kontrak kerja sama dengan pembudidaya nila di Jawa Timur untuk menjamin pasokan nila ukuran 300 gram ke atas bagi pabrik pengolahannya. “Pembudidaya hanya diminta fokus saja pada produksi. Untuk pasar, kami yang menjamin,” pungkasnya. (Trobos)


















