Masyarakat Lhokseumawe saat ini mulai gemar memelihara ikan air tawar terutama jenis ikan lele. Hanya saja, peluang pasar masih terbatas, padahal jika ada saja pedagang yang menampung mereka siap berproduksi dalam jumlah lebih besar.
“Jika produksi dengan partai banyak, takut pasar tidak mampu menampung. Tapi jika ada order, kami bisa menyiapkan, rencananya kami juga akan membuka peluang pasar hingga Sumatera Utara, tapi hingga saat ini belum dapat,” kata Samsul , Senin (4/6).
Peternak ikan lele di Dusun Buket Rata, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe ini memiliki empat petak kolam yang masing-masing kolam mampu menampung bibit ikan lele antara 10.000 sampai 25.000 ekor.
Khusus di Lhokseumawe, hasil panen diantar ke tempat penampungan dengan harga Rp 14.000 per kg. “Itu pun jenis ikan ukuran sedang yang bisa laku seharga tersebut atau satu kilo antara enam, tujuh atau delapan ekor. Jika ikan lele ukuran besar dihargai hanya Rp 10.000 per kg,” katanya.
Makanya, urai Samsul, dirinya butuh tempat penampungan yang pasti, jika ada terutama diambil langsung ke kolam lebih baik.
“Misalnya ketika panen, kami tinggal mengabari saja ke penampung dan penampung nanti tinggal ambil ke kolam. Hal ini lebih bagus, selama ini kami merasa kesulitan membawa hasil panen ke penampung, maklumlah petani tidak memiliki sarana transportasi untuk mengangkut ikan tersebut,” ungkapnya.
Dijelaskan lagi, oleh penampung ikan tersebut disortir lagi, bahkan ada sebagian belum laku dijual dengan alasan ukurannya masih kecil, sehingga terpaksa dibawa pulang kembali, jelas ini sangat merugikan.
Untuk mengatasinya, peternak harus rajin menyortir ikan saat masih dibudidayakan, agar pertumbuhannya merata. Peternak melakukan sistem pemisahan antara ikan yang besar dengan yang kecil.
Jika tidak demikian, dikhawatirkan pakan yang ditaburkan hanya dimakan ikan besar, sedangkan yang kecil kalah bersaing sehingga pertumbuhannya terhambat. “Makanya dilakukan penyortiran, ikan lele yang kecil dipisahkan dari yang sudah layak jual, kemudian dipindahkan ke kolam lain,” jelas Samsul.
Dia pun kerap menjumpai, setelah dua bulan lebih dibudidayakan ada ikan yang beratnya hampir dua kilogram. “Pantas ada sebagian ikan pertumbuhannya lambat, ternyata ada ikan yang sudah besar, sehingga wajar jika ditabur pakan ikan-ikan besar saja yang menang,” jelasnya. (medanbisnis)

















