Petani ikan air tawar di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), kesulitan memasarkan produksinya karena belum tersedia tempat pelelangan ikan air tawar di daerah itu.
“Kami terpaksa menjual ikan peliharaan seperti lele dan nila kepada tengkulak ikan dengan harga murah,” ujar Hendra, salah seorang petani ikan air tawar di Pangkalpinang, Minggu (24/6).
Ia mengaku, terpaksa menjual lima ribu ekor atau sekitar 500 kilogram lele jumbo kepada tengkulak dengan harga di bawah pasaran, karena apabila tidak segera dijual maka ikan akan semakin besar dan semakin sulit untuk dipasarkan.
Harga ikan air tawar di tengkulak hanya Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram, sementara harga di pasar mencapai Rp25 ribu per kilogram.
“Ukuran ikan lele yang dipasarkan untuk konsumsi sebesar pergelangan tangan atau dengan berat enam ekor per kilogram, apabila melewati batas ukuran tersebut maka pedagang atau masyarakat tidak mau lagi membelinya sehingga kami akan semakin rugi,” ujarnya.
Menurut dia, penjualan ikan yang di bawah harga pasar tersebut, kami rugi karena biaya pembelian bibit dan makanan ikan tidak yang tinggi bahkan cenderung mengalami kenaikan.
Misalnya harga pelet naik menjadi Rp310 ribu per karung (satuan isi 30 kilogram) dari harga sebelumnya Rp290 ribu per karung, demikian juga, harga bibit ikan lele ukuran lima hingga enam centi meter naik menjadi Rp400 per ekor dari harga sebelumnya Rp350 per ekor.
“Kalau kondisi ini terus berlanjut, maka dipastikan petani tidak akan lagi memelihara ikan air tawar untuk menambah penghasilan keluarganya,” ujarnya.
Untuk itu, kata dia, kami berharap pemerintah kota untuk membuka tempat pelelangan atau koperasi yang mampu membeli ikan petani dalam skala besar dengan harga ikan yang menguntungkan petani.
“Saya tertarik memelihara ikan air tawar ini karena ada bimbingan dan penyuluhan dari petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pangkalpinang dan saya menilai memelihara ikan ini cukup menguntungkan dan bisa menambah pendapatan keluarga, namun pada saat panen kami terkendala memasarkan ikan tersebut,” ujarnya.
Demikian juga, Anto, salah seorang petani ikan lainnya, mengaku, sulit mencari pembeli ikan peliharaannya karena konsumsi ikan air tawar masyarakat lokal masih rendah karena mereka lebih meminati ikan laut.
“Saya sudah berusaha menawarkan ikan ini kepada pemilik warung pecel lele, warung nasi namun mereka menolak karena mereka sudah memiliki pelanggan tersendiri dan untuk mengurangi kerugian, kami terpaksa menjual ikan kepada tengkulak dengan harga murah,” ujarnya.

















