Restoran Izumoya di kawasan Nihinbashi, yang memulai usahanya pada tahun 1946, berhenti menyediakan unagi sejak lima tahun lalu karena harganya semakin mahal, dan kualitasnya tidak bagus.
Sementara, sekitar 50 restoran unagi di seluruh Jepang juga berhenti beroperasi tahun ini, dipicu oleh tingginya harga ikan sidat, yang menjadi bahan dasar unagi, dan membuat permintaan konsumen turun, sedangkan restoran lainnya kini menghadapi penurunan permintaan, ungkap Asosiasi Penjual Unagi Bakar.
Berdasarkan data Metropolitan Central Wholesale Market di Tokyo, pada bulan Juni harga grosir ikan sidat rata-rata 4,718 yen per kilogram, menjelang puncak musim panas yang juga masa tingginya permintaan unagi, sekitar 40 persen lebih tinggi dibanding tahun 2011.
Harga naik dipicu rendahnya hasil tangkapan ikan sidat, baik dari hasil budidaya atau laut lepas, yang dikenal sebagai ikan sidat gelas karena terlihat transparan.
Khawatir akan keterbatasan pasokan, Pemerintah Amerika Serikat kabarnya sedang mempertimbangkan untuk membatasi perdagangan ikan sidat Amerika, dengan memasukkannya dalam daftar spesies langka, seperti yang telah dilakukan Eropa.
Langkah seperti itu akan berdampak pada semakin tingginya harga ikan sidat di Jepang.
Ikan sidat asal Amerika Serikat, dibesarkan di Cina dan Korea Selatan, selanjutnya di kirim ke Jepang, yang juga mengimpor dari negara lain untuk menambah pasokan domestik.
Menurut statistik yang dikeluarkan Kementerian Keuangan, dalam lima bulan pertama tahun 2012, Jepang telah mengimpor 323 kilogram bibit ikan sidat dari Amerika Serikat, Madagaskar, Filipina, dan Indonesia.
Salah seorang anggota industri perikanan menilai masalah yang dihadapi saat ini dipicu oleh pasokan dan konsumsi. Pasokan ikan sidat sudah jenuh akibat tidak adanya peraturan dan pengawasan yang efektif, serta kurangnya kerjasama lintas negara untuk pengelolaan pasokan.
Masalah juga semakin diperberat oleh tingginya permintaan akibat perubahan pola konsumsi di Jepang, yang menyerap 70 persen dari hasil tangkapan ikan sidat.
Pada tahun 1961, hasil tangkapan ikan sidat dewasa mencapai 3,400 ton, namun hasil tahunan terus menurun dan pada beberapa tahun terakhir hanya 200 ton.
Ikan sidat yang ditangkap di laut hanya sebanyak 0,5 persen dari keseluruhan yang dikonsumsi di Jepang, dan hampir seluruh pasokan yang masuk pasar domestik berasal dari hasil budidaya, baik didalam maupun luar negeri.
Namun, budidaya ikan sidat masih mengalami sejumlah kendala.
Hasil tangkapan bibit ikan sidat untuk dipasok ke tempat pembudidayaan turun drastis menjadi kurang dari 10 ton di tahun 2010 dan 2011, anjlok dari perkiraan puncak yakni sekitar 232 ton di tahun 1963.
Di Jepang, penangkapan ikan sidat diatur, dan nelayan diwajibkan mendapatkan ijin yang diterbitkan Gubernur, namun pengamat industri ikan sidat menilai pengawasan saat ini tidak maksimal.
“Pada kenyataannya, hampir tidak ada peraturan karena mendapatkan ijin sangat mudah, dan pemantauan terhadap penangkap liar tidak memadai,” ungkap salah seorang pejabat di wilayah barat Jepang.
Sementara seorang peneliti menyatakan,”Bahkan tidak ada data yang dapat diandalkan tersedia disusun oleh negara, misalnya mengenai jumlah bibit ikan sidat yang memasuki wilayah Jepang, dan ditangkap setiap tahunnya.
Menghadapi situasi seperti ini, East sia Eeel Resource Consortium, badan yang anggotanya terdiri dari berbagai kalangan dalam industri ikan sidat dari Jepang, Cina dan Korea Selatan, mengajukan usulan pada bulan Maret yang meminta agar dilarangnya penangkapan ikan sidat di sungai dan kawasan pantai.
Selain itu, konsorsium juga meminta agar penangkapan bibit ikan sidat dibawah pengawasan negara, guna mendapatkan data akurat populasi ikan sidat.
Pada akhir Juni, Badan Perikanan Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan mengajukan sejumlah tindakan darurat untuk menangani anjloknya persediaan ikan sidat, yang menghimbau dilakukannya perlindungan ikan sidat dewasa yang akan bertelur, dan membuat akses bagi bibit ikan sidat agar bisa ke hulu untuk meletakkan telur.
Namun banyak pejabat pemerintah daerah mempertanyakan efektifitas tindakan itu, karena tidak mengikat.
Selain itu, belum ada kemajuan berarti dalam kerjasama internasional dalam pengelolaan ikan sidat.
Pejabat Badan Perikanan pada pertengahan Juni silam berkunjung ke Cina, guna melakukan konsultasi pertama mengenai produksi ikan sidat dengan mitra dari Kementerian Pertanian Cina.
“Kerjasama dengan Cina sangat penting, yang hasil tangkapan dan budidaya ikan sidatnya terus meningkat,” ujar salah seorang pejabat Badan Perikanan.
Namun pembahasan utama hanya dilakukan setengah hari, dan selanjutnya Jepang meminta kunjungan ke tempat budidaya, namun ditolak. Dan waktu untuk pertemuan selanjutnya belum ditetapkan.
Sedangkan mengenai pola konsumsi domestik, ikan sidat kini bukan lagi hidangan mahal yang disediakan di restoran, produk ikan sidat bakar yang murah juga tersedia di supermarket dan mini market.
“Dan pembudidaya ikan sidat kini lebuih memprioritaskan supermarket karena membeli dalam jumlah besar, meskipun harga ritel rendah yang berarti sedikitnya laba,” ujar salah seorang nelayan dari wilayah Jepang timur. “Model bisnis yang berdasarkan penjualan dalam jumlah besar sudah lama berakar.”
Setiap tahun, penjualan tetap sekitar 8,000 ton, namun mulai naik diakhir 1980, setelah produk murah mulai memasuki pasar. Disaat yang bersamaan, Cina juga mulai membudidayakan ikan sidat dengan target konsumen Jepang.
Penjualan ikan sidat naik hampir mencapai 160,000 ton pada tahun 2000, dan sekitar 130,000 ton diimpor dari Cina dan Taiwan.
Meski produksi ikan sidat terus turun karena rendahnya pasokan, namun tidak ada perubahan cara pemasaran.
“Sudah jelas persediaan ikan sidat tidak bisa tergantung pada penjualan dalam jumlah besar,” ungkap salah seorang manajer restoran memperingatkan. “Bila hal seperti ini terus berlanjut, maka tidak ada satu restoran khusus yang menghidangkan ikan sidat bisa tetap bertahan.” (halojepang)


















