Belum berjalannya industrialisasi hilir ikan air tawar di kawasan Talang Duku menjadi ganjalan bagi ratusan pembudidaya ikan memaksimalkan produksi ikan patin di Provinsi Jambi.
Sejak digulirkan mantan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin dan dijadikan program unggulan perikanan air tawar oleh pemerintah pusat beberapa tahun lalu, program pengembangan ikan patin hingga saat ini ternyata masih mengalami kendala di sisi pemasaran, harga patin ditingkat pembudidaya ada pada kisaran 10 ribu per kilogram.
Pemerintah sebenarnya menyiapkan berdirinya pabrik fillet ikan di kawasan Talang Duku sebagai pendukung industrialisasi ikan air tawar Jambi tersebut. Namun sejak diresmikan, infrastruktur yang seharusnya menyerap produksi pembudidaya patin yang berkisar 30 ton per hari tidak berjalan.
Terkait hal ini, Kepala balai benih ikan air tawar BBAT Provinsi Jambi Mimid Abdul Hamid kepada RRI kemarin menjelaskan keluhan para pembudidaya patin ini terkait dengan membanjirnya produksi yang berimbas pada turunnya harga. Pemerintah Jambi menurutnya sesegera mungkin memfungsikan unit pengolahan ikan untuk menampung produksi ikan yang dihasilkan.
Menurut Kepala BBAT Provinsi Jambi ini, peluang meningkatkan produksi ikan air tawar khususnya patin sangat besar. Para pembudidaya yang tersebar di sentra ikan air tawar seperti Pudak, Sungai Duren dan Tangkit jelasnya siap meningkatkan produksi, namun jelas Mimid, para pembudidaya tersebut butuh kepastian dari pemerintah seperti kebijakan pasar dan penyiapan infrastruktur yang mampu menjaga tingkat harga yang layak. (rrijambi)

















