Potensi sumber daya alam Kabupaten Banyumas sesuai dengan namanya Banyu artinya air dan mas artinya berharga. Wilayah geografis yang strategis di bawah Gunung Slamet menjadikan kawasan Banyumas tercukupi ketersediaan airnya sepanjang tahun. Selain ketersediaan air, jenis tanah, kemiringan tanah dan jenis tanah juga menjadi nilai plus yang dimiliki Banyumas.
Sumber air yang melimpah dan berasal dari mata air yang jernih dan memenuhi baku mutu yang cukup sangat mendukung untuk usaha perikanan. Salah satu aktivitas perikanan budidaya yaitu pembenihan ikan gurami yang menjadi primadona di Banyumas. Komoditas gurami memiliki pangsa pasar terbuka luas, harga jual yang bagus, dapat dijual dari mulai telur hingga ukuran tertentu hingga konsumsi (segmentasi yang panjang, setiap segmen memiliki pasar).
Banyak terdapat peluang yang dapat dikerjakan secara serius, karena pada umumnya masih dikerjakan secara tradisional (ilmu turun temurun). Pada tahun 2003 – 2004 banyak pembudidaya ikan yang gulung tikar dan menjual induknya karena telur sudah tidak diserap oleh pasar.
Banyumas merupakan daerah penghasil telur gurami terbesar terutama di Desa Beji. Pada tahun 2001 banyak pembudidaya ikan hanya membudidayakan telurnya saja karena untuk mencapai ukuran konsumsi memerlukan waktu yang panjang sekitar 1 tahun, manajemen yang masih konvensional dan modal yang tidak kuat. Di sisi lain mereka juga memerlukan perputaran modal yang cepat agar keuntungan yang diperoleh bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.
Usaha telur gurami berawal dari 4 paket induk gurami (perpaket terdiri dari 1 jantan 4 betina) dapat menghasilkan telur rata rata 40.000 butir/bulan. Pemasaran telur gurami melalui pengepul dan oleh pengepul dikirim ke luar daerah antara lain Tulungagung–Jatim, DI Yogyakarta dan bahkan Pekanbaru-Riau. Pada tahun 2002, usaha berkembang menjadi 25 paket induk dengan kapasitas produksi mencapai rata rata 250.000 butir/bulan. Permintaan telur ini masih tetap tinggi dengan harga mencapai Rp. 40/butirnya. Pada tahun 2003, usaha pemijahan mulai memasuki masa sulit dimana telur tidak terserap oleh pasar dan harga jatuh hingga mencapai Rp.5/butir.
Hal ini diakibatkan terjadi over produksi di daerah Tulungagung-Jatim sehingga pembelian telur dari Banyumas dihentikan. Masa ini menjadi masa yang sangat sulit bagi pembudidaya ikan di Kabupaten Banyumas dan banyak yang gulung tikar dan menjual induknya.
Melihat kondisi tersebut, Irwan Setiadi (Ketua Kelompok Mina Artha) beralih usaha dari produsen telur menjadi pembenihan skala rumah tangga dan berhasil mengembangkan prinsip teknologi dapat diterapkan di tingkat pembudidaya ikan dengan modal dan pembiayaan yang kecil dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah tangga sejak tahun 2004. Segmen pembenihan gurami adalah potensi terbesar untuk dikerjakan karena tidak membutuhkan biaya yang besar dan lahan yang luas.
Untuk merubah kebiasaan dimana ketergantungan pasar telur terhadap kebutuhan gurami di Jawa Timur sangatlah tinggi menjadi dapat dipelihara sendiri dengan merawat dan memelihara telur gurami menjadi benih ikan gurami. Kegagalan atau kematian secara total sering dialami, diakibatan keterbatasan fasilitas pendukung (sumber air dari sungai, teknologi sistem pemeliharaan di bak semen) dan yang paling sering muncul serangan penyakit ikan berupa protozoa white spot.
Namun hal ini tidak mengundurkan niatnya untuk usaha pembenihan gurami sehingga usaha perawatan larva ini tetap dilakukan dengan trial and error dan mencatat setiap aktivitas untuk menemukan cara yang paling tepat untuk mendapatkan SR benih yang tinggi dan siap untuk dijual dalam bentuk benih pada ukuran tertentu. Sistem perawatan larva gurami dapat dilaksanakan secara tradisional dan semi intensif dengan kendala-kendala sebagai berikut:
- Hama, predator dan penyakit ikan tidak terkendali serta ketergantungan terhadap kondisi alam sangat tinggi (pakan, suhu dan kondisi perairan).
- Hasil panen tidak pernah lebih dari 10 % dan sering mengalami kerugian/gagal total.
- Ilmu turun temurun dan keterbatasan pengetahuan dan ilmu pembudidaya ikan.
- Faktor terbesar putusnya rantai budidaya gurami di Banyumas karena keterbatasan modal, sehingga petani lebih senang menjual telur gurami keluar daerah.
- Hama dan predator sudah dapat dikendalikan, penyakit belum 100% terkendali, ketergantungan terhadap panas matahari dan suhu air sangat berpengaruh
- Meniru dari daerah lain yang belum tentu sesuai dengan kondisi alam di Banyumas, (hanya cocok di daerah beriklim panas di atas 280C) Purwokerto suhu 25 – 280C.
- Faktor kegagalan masih sering sekali muncul, kematian massal setelah hari ke 12 (serangan white Spot).
Dengan memperhatikan kendala-kendala tersebut melalui penelitian dan study banding selama + 4 tahun (2004 – 2008) maka di temukan teknologi terbaru perawatan larva gurami intensif berskala hathcrey rumah tangga dengan keunggulan sebagai berikut:
- Mengurangi ketergantungan terhadap faktor alam berupa kebutuhan suhu tinggi (lebih dari 280C) dan pengendalian terhadap penyakit.
- Dapat menekan faktor kematian masal terhadap benih ikan yang diakibatkan oleh penyakit (white Spot).
Saat ini keberhasilan tingkat keberhasilan produksi mencapai rata-rata SR 90% dengan kapasitas produksi mencapai 54.000 benih/bulan, dari 6 paket unit kolam bak semen (per 1 unit dapat menghasilkan 9.000 benih/bulan). Sehingga untuk kapasitas produksi telur kabupaten Banyumas mencapai 30 juta butir/bulan, membutuhkan 3.000 unit atau membutuhkan 3.000 kepala rumah tangga terlatih untuk menyerap produksi telur Kab. Banyumas agar tidak tergantung dengan daerah Tulungagung-Jatim dan daerah lainnya.
Selain sebagai Ketua Pokdakan Artha Mina, Irwan juga aktif sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Usaha Perikanan (BP2UP) UPP Mina Mas Kab. Banyumas. Irwan berperan aktif dalam pengembangan pembenihan skala rumah tangga di Kabupaten Banyumas. Peran aktifnya melalui UPP Mina Mas Kab. Banyumas antara lain:
- Mengembangkan prinsip teknologi pembenihan gurami skala hatchery rumah tangga yang dapat diterapkan di tingkat pembudidaya ikan dengan modal dan pembiayaan yang kecil dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah tangga dan diberi nama “Perawatan Larva Gurami Model Inkubator skala Rumah Tangga”.
- Program kerja diselaraskan dan bersinergi dengan Program Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Banyumas untuk mewujudkan Program Minapolitan Kab. Banyumas.
- Sasaran awal 1.000 unit inkubator pada 1.000 KK dengan pemanfaatan lahan pekarangan kosong disamping rumah yang tersebar di 4 kecamatan yang memiliki topografi daerah atas (daerah pembenihan Minapolitan) yaitu Kec. Baturaden, Kec Karangluas, Kec. Kedungbanteng dan Kec. Sumbang dengan target dapat menyerap 1/3 produksi telur Gurami Kabupaten Banyumas sekitar 10 juta butir. Ke depan diharapkan sebagai model atau contoh yang dapat berkembang minimal 2 kali lipat di tingkat masyarakat hingga tercapai target 3.000 unit.
- Untuk mempercepat penyebaran teknologi, UPP Mina Mas Kab Banyumas membentuk bidang Pendidikan dan Pelatihan Usaha Perikanan (BP2UP) yang berfungsi membekali keterampilan kepada pembudidaya atau kelompok dalam penerapan teknologi budidaya perikanan untuk berusaha di bidang perikanan.
Yang telah dilakukan dan dalam proses pendampingan di beberapa daerah secara swadaya yakni Desa Limpakuwus Kec. Baturaden, Desa Bobosan Kec. Karangluas, Desa Banjarsari Wetan Kec. Sumbang, Desa Pamijen Kec. Baturaden, dan Desa Petahunan Kec. Ajibarang
Dalam kurun waktu 1 – 2 tahun ke depan harapan target tercapai dimana Kabupaten Banyumas sebagai swasembada benih gurami dan didukung dengan penyiapan segmen selanjutnya sehingga Kabupaten Banyumas akan menjadi penghasil gurami terbesar di Indonesia mencapai 500 ton/hari atau 15.000 ton/bulan ukuran konsumsi dengan asumsi SR hanya 50 %. (kkp)



















Paparan sangat konstruktip, apa kami boleh berkunjung ketempat Anda untyuk sekedar study banding?