Fillet ikan patin olahan lokal mulai dilirik industri kuliner seperti hotel, restoran, dan katering. Direktur PT Indo Maguro Tachmid Widiasto mengatakan, pasar konsumsi dalam negeri kian menjanjikan. Menurutnya, industri jasa boga mulai menerima patin fillet lokal.
Padahal, sebelumnya para usahawan kuliner lebih memilih patin fillet impor dari Vietnam ketimbang lokal. Diakui, selain faktor harga, tekstur dan rasa patin fillet Vietnam sudah diterima di pasar kuliner internasional.
Menurutnya, langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menutup impor patin pada awal tahun ini mendorong industri patin olahan berkembang. “Tiap hari kita mampu memproduksi fillet ikan patin sebanyak 10 ton atau dalam sebulan mampu memproduksi sebesar 300 ton,” ujar Taschmid di Jakarta, Minggu(24/6/2012).
Menurut Taschmid, pihaknya sudah memasok produk ikan patin filletnya di setiap produk katering. Menurutnya, selama ini konsumen lebih suka kakap merah, namun pasokannya makin sulit didapat.
“Kita sudah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) antara PT Indomaguro dengan Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI),” ujarnya.
Meksi begitu, dia meminta perhatian serius pemerintah agar meningkatkan pengawasan impor ilegal patin asal Vietnam yang pada umumnya masuk melalui celah di kawasan perbatasan. (kbc11)




















saya berniat menjadi pengusaha fillet ikan patin pemasaranya kemana?