KKP Targetkan Produksi Patin Dalam Negeri Capai 4.444 Ton

pakanpatin

Untuk mendukung industrialisasi sektor perikanan, Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP) telah menetapkan komoditas hasil kelautan dan perikanan unggulan yaitu, tuna, tongkol, cakalang, pindang, bandeng, rumput laut, dan patin.

Ikan patin sebagai salah satu komoditas industrialisasi memiliki potensi cukup besar. Patin dapat diolah dalam berbagai bentuk, di antaranya fillet, surimi, ikan asap, dendeng, pindang, empek-empek dan olahan lainnya. Hingga kini, pemerintah terus berusaha mengembangkan industri patin, khususnya patin fillet.

Sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan patin fillet dalam negeri, tahun 2012 KKP menargetkan volume produksi olahan patin mencapai 4.444 ton yang seluruhnya akan dipasarkan di dalam negeri.

Pada 2011, pihaknya juga sudah menyediakan dan membina enam unit pengolahan patin fillet. Di antaranya di Jambi, Karawang, Purwakarta, Tulung Agung, Banjar dan Riau.

“Kita pasarkan di domestik saja. Domestik juga udah bagus kok, di pulau Jawa ada fillet patin, di Riau Jambi itu ada patin pindang asap. Belum ingin ekspor,” kata Dirjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan (P2HP) KKP Saut Parulian Hutagalung di sela sela acara Forum Industri Pengolahan Patin di Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan, produksi budidaya patin tahun 2011 mencapai 145.000 ton. Sementara kebutuhan ikan patin, untuk industri pengolahan, pasar institusional dan penjualan segar di pasar tradisional mencapai 155.000 ton.

Hingga kini permintaan patin fillet di pasar institusional naik dan masih belum bisa dipenuhi produsen lokal. Karena harganya yang sulit bersaing dengan patin impor, khususnya dari Vietnam. Dimana tahun 2010, impor patin mencapai 2.453,41 ton.

Saat ini mayoritas patin lokal yang dipasarkan di pasar konvensional/tradisional kebanyakan patin dalam bentuk utuh segar dan potongan. Padahal patin dapat diolah dalam berbagai bentuk.

“Hanya ada beberapa industri yang mengembangkan patin olahan. Untuk patin fillet hanya ada 705 unit, terdiri dari 13 usaha skala besar. Sisanya pengolahan ikan asap, abon, keripik kulit patin dan olahan lainnya,” kata Saud.

Menurutnya, agar industri patin fillet di Indonesia berkembang, pemerintah menganggarkan Rp600 juta guna penyediaan 100 lebih lemari pendingin (freezer).

Freezer tersebut untuk mendukung industri pengolahan ikan patin di Indonesia. Pembelian lemari pendingin itu akan dilakukan pada bulan Agustus mendatang.

“Agustus nanti, lemari pendingin itu bisa langsung saya sebar. Sebanyak 100 unit di antaranya di Jakarta untuk disebar ke setiap koperasi kementerian dan toko retail. Harga per unit lemari pendingin itu sebesar Rp5 juta,” ujarnya.

Tujuannya untuk menginisiasi perusahaan pengolahan ikan patin agar dapat mempromosikan komoditas ini di tanah air. Selain itu untuk memasarkan patin fillet agar masyarakat lebih bisa mengenalnya. (cr-1/pelita)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

One Comment on "KKP Targetkan Produksi Patin Dalam Negeri Capai 4.444 Ton"

  1. aldy June 20, 2012 at 1:55 am - Reply

    bagus ni artikelnya gan.
    mksh yaa :)

Leave A Response