Ekspor Terpukul, KKP Perkuat Pasar Ikan Domestik

Pasar Ikan

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyadari, badai krisis finansial yang melanda Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) niscaya bakal memukul kinerja ekspor produk perikanan nasional sepanjang tahun ini. Apalagi AS dan UE adalah pasar tradisional bagi produk perikanan Indonesia. Itulah sebabnya, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP terus berupaya memperkuat pasar ikan dalam negeri dengan cara meningkatkan konsumsi dan mendorong peningkatan citra produk perikanan lokal.

Direktur Jenderal P2HP KKP Saut Parulian Hutagalung menjelaskan, pihaknya kini tengah fokus menggarap pasar domestik untuk menyiasati pelemahan ekspor seiring krisis global yang tak kunjung pulih. “Jadi kita memang sekarang ini lebih mengintensifkan bagaimana kita mempromosikan konsumsi ikan. Terutama dalam memperkuat pasar dalam negeri. Sering kita bilang bahwa pasar dalam negeri kita nomor duakan. Tapi tumpuan kita hanya pasar dalam negeri. Promosi dalam negeri kita tingkatkan. Lebih gencar. Bagaimana meningkatkan citra perikanan dan ikan yang sehat. Kita perkenalkan kepada masyarakat,” kata Saut kepada para wartawan anggota Komunitas Wartawan Kelautan dan Perikanan (Komunikan) di Jakarta, Kamis (21/6).

Dalam konteks penguatan pasar domestik itulah, Ditjen P2HP bakal menyelenggarakan Festival Perikanan Nusantara di Parkir Timur Senayan Jakarta pada 23-24 Juni 2012. Menurut Saut, pada perhelatan itu, pihaknya akan fokus mendorong citra produk perikanan, khususnya ikan patin, bandeng, dan pindang. Alasannya, ketiga jenis ikan itu memuliki sejumlah keunggulan seperti pembudidayaan yang relatif gampang, kualitas bagus, dan harga terjangkau.

“Ketiga produk ini untuk mengisi pasar dalam negeri. Kenapa tiga ini. Karena pertama, cara produksinya dikenal luas. Kedua, untuk penerimaan konsumen tidak masalah. Hanya akan ada variasi. Patin untuk promosikan variasi baru. Untuk pindang, kita perbaiki citra. Selama ini pindang dikenal sebagai produk murahan dan kelas bawah. Kalau diperbaiki kemasannya, bisa naik kelas,” jelas Saut.

Selain itu, Saut mengaku, pemerintah bakal terus mendekatkan produk perikanan ke konsumen. Lewat festival ini, dia juga berharap bisa memperluas resonansi gerakan mengkonsumsi makan ikan. “Kemudian, kita juga ingin, melalui acara ini, kita ingin lebih melibatkan masyarakat. Meski dikenal masyarakat, dari sisi cara masak masih dicarikan resep. Itu sebabnya lomba makan menjadi penting. Ada ibu-ibu 120 mungkin. Kita harapkan kita bisa bekerja sama. Karena pada akhirnya, yang menentukan makan di rumah ya ibu-ibu,” tambah Saut.

Di tempat yang sama, Zaeful Hanefi ZZ, Presiden Direktur Rekka Media, event organizer Festival Perikanan Nusantara 2012, mengatakan tujuan dari kegiatan itu adalah mengkampanyekan konsumsi makan ikan. Pada acara tersebut, akan ada 120 ibu-ibu yang mengikuti lomba masak ikan, yang dipilah dalam pembagian 40 orang dengan menu ikan patin, 40 orang menu ikan bandeng, dan 40 orang menu ikan pindang. “Dari pengusaha jasa boga, ada pojok kuliner. Ada 33 menu dari 33 propinsi. Di lokasi ini akan dilihat beberapa kolam ikan. Silahkan pancing sendiri, panggang sendiri. Kegiatan ini mem brain wash sehingga pulang dengan mencintai makanan ikan,” ujarnya.

Pasar Domestik

Pada kesempatan itu, Saut juga menjelaskan, kendati pasar ekspor terpengaruh krisis global, pemerintah terus agresif menggenjot ekspor perikanan. Pasar ekspor, kata dia, tak mungkin ditinggalkan. Karena para pengusaha sudah banyak yang menjalin mitra jangka panjang dengan konsumen di negara lain. “Orang-orang AS tidak mungkin tidak makan sea food. Memang ada perubahan-perubahan dari sisi permintaan. Tapi lebih pada perubahan size ikan yang diminta. Tinggal tingkat kejelian kita, pasar minta apa. Sekarang ini trennya ke size kecil, bukan size besar,” ujarnya.

Menurut data Ditjen P2HP, konsumsi ikan per kapita per tahun pada 2010 mencapai 30,47 kg, 2011 sebesar 31.64 kg, 2012 sebesar 33,14, pada 2012 ditargetkan 35, 14 kg, dan pada 2014 ditargetkan 38,00 kg. Sementara karena pasar Indonesia sangat besar, maka menurut Saut, tak heran jika negara lain mengincar pasar Indonesia. Oleh karena itu, dia bakal menyiasatinya dengan beberapa cara. Pertama, pengendalian impor. Dengan demikian ada permintaan tinggi terhadap produksi dalam ngeri. Kedua, jenis-jenis ikan dalam negeri disesuaikan dengan permintaan. Misalnya kakap merah yang biasanya diekspor, bakal pasok ke dalam negeri. Kalau dulu kakap merah ditahan, maka sekarang akan dilepas ke pasar dalam negeri. “Impor harus kita kendalikan. Kita batasi. Andai diperlukan, maka hanya untuk pengalengan atau yang diolah untuk diekspor,” jelas Saut.

Lebih jauh dia mengatakan, pasar luar negeri tetap akan didorong. Tapi pasar dalam negeri lebih diperhatikan. Karena ekspor berkurang, sementara produksi terus terjadi, maka pasar dalam negeri memang harus meningkat. Pasar tradisional di AS dan UE sedang lesu, sehingga, lanjut Saut, pengembangan atau diversifikasi pasar ekspor banyak berkembang ke Afrika, khususnya ikan kaleng. Selain itu, ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi, seperti udang, tuna, lobster, Salmon, dan kerapu juga laku di Timor Tengah. “Di timur tengah banyak pekerja orang Asia. Jumlah pekerja Asia lebih besar dari jumlah warga lokal. Jadi ini juga pasar besar. Konsumsi bandeng di sana tinggi. Bukan karena orang lokal konsumsi, tapi karena orang pendatang banyak,” imbuhnya. (munib/neraca)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.