Teknik Gravitasi Tekan Biaya Produksi Budidaya Ikan Laut

Teknik Gravitasi Budidaya Ikan Kerapu

Pengembangan budidaya perikanan dengan teknik gravitasi alam diharapkan mampu merangsang masyarakat pesisir untuk melakukan budidaya perikanan air laut. Teknik gravitasi dapat menekan biaya produksi hingga 60%.

Komisaris CV Anugerah Maritim Lestari Effendy mengatakan, teknik gravitasi berarti memanfaatkan kekuatan alam dalam mensuplai oksigen ke dalam kolam di saat air pasang terjadi. Yang berarti, oksigen yang dibutuhkan ikan dengan sendirinya terpenuhi tanpa melalui mekanisasi seperti kincir air yang menelan biaya tinggi.

“Dalam sehari air pasang terjadi dua kali. Ketika pasang terjadi, air akan masuk ke dalam kolam dan dengan sendirinya air akan keluar (surut) dari dalam kolam dengan ketinggian yang sudah diatur sebelumnya,” kata Effendy kepada MedanBisnis, Rabu (20/2) di lokasi pembudidayaan ikan miliknya di Desa Pantai Cermin Kiri, Dusun IV Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

Hal itu dikatakannya di sela-sela acara Sosialisasi Budidaya Perikanan dengan Teknik Gravitasi Alam untuk masyarakat pesisir di seluruh Indonesia.

Hadir dalam acara tersebut, antara lain Direktur CV Anugerah Maritim Lestari Vredy, Kepala Dinas Pembinaan Potensi Maritim Lantamal I Belawan Sugeng, anggota Komisi C DPRD Sergai Agus Effendy, praktisi udang Ricky Kho, praktisi peternakan/perunggasan drh Djody, siswa/i serta para guru SMK Negeri I Pantai Cermin jurusan agribisnis perikanan masyarakat pesisir lainnya.

Yang paling penting diketahui kata Effendy wilayah pesisir Selat Malaka punya perbedaan pasang lebih besar antara 2 – 4 meter daripada pantai barat yang hanya berkisar 1 – 1,5 meter.

“Ini yang tidak diperhatikan orang-orang yang berada di pesisir. Dan, dengan sosialisasi ini kita mau dan berharap masyarakat pesisir mau melakukan apa yang sudah saya lakukan dalam budidaya perikanan air laut ini. Dengan begitu, masyarakat pesisir bisa melepaskan kemiskinannya selama ini,” kata Effendy.

Masyarakat pesisir kata dia, tinggal membuat kolam-kolam yang dekat dengan laut kemudian memasangkannya dengan pipa paralon ataupun bambu sebagai pintu masuk dan keluarnya air. Sedangkan benihnya, para nelayan tinggal menangkapnya di laut saat musim ikan tiba untuk kemudian dibesarkan di kolam yang telah disediakan tadi. Dengan pembesaran 5 – 6 bulan, mereka sudah bisa menjualnya dengan harga tinggi.

Effendy juga berharap pemerintah dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan baik provinsi maupun kabupaten/kota bahkan Kementerian Kelautan jangan lagi memberikan bantuan berupa kapal tangkap untuk nelayan tapi lebih baik membuka kolam-kolam pembudidayaan ikan laut.

Dengan begitu, masyarakat pesisir terhindar dari kemiskinan dan risiko melaut yang sangat tinggi di tengah laut.

Dikatakannya, teknik budidaya perikanan laut dengan gravitasi merupakan hasil penelitiannya selama kurang lebih empat tahun. Dan, hasilnya dapat menghemat biaya kerja hingga 60%. “Cara ini sudah saya sosialisasikan hingga ke Aceh,” kata Effendy yang memiliki tambak ikan seluas 27 hektare di Pantai Cermin dan 20 hektare di Belawan.

Kepala Dinas Pembinaan Potensi Maritim Lantamal I Belawan Sugeng mengatakan, sumber daya alam Indonesia memiliki potensi yang luar bisa untuk dikembangkan. Dan, Lantamal I Belawan juga memiliki pilot project pengembangan masyarakat pesisir dengan melakukan budidaya perikanan laut.

“Apa yang dilakukan Pak Effendy patut kita apresiasi, karena mau memberikan pelatihan kepada masyarakat pesisir dalam melakukan budidaya perikanan laut demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” tandasnya. (Sumber : Medan Bisnis)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.