Sumsel Rintis Industri Ikan Patin

Fillet Ikan Patin

Provinsi Sumatra Selatan segera merintis industri pengolahan ikan patin pada tahun ini dengan meningkatkan produksi dari budidaya hingga 20% agar dapat menembus pasar ekspor.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel Sri Dewi Titisari mengatakan Sumsel memiliki potensi pengembangan ikan patin yang cukup tinggi mengingat 52% dari total produksi ikan air tawar itu secara nasional berasal dari Sumsel.

“Lebih dari separuh total produksi ikan patin nasional itu berasal dari Sumsel. Oleh karena itu, kami ingin merintis usaha pengolahan ikan patin di sini,” jelasnya, Kamis (3/1).

Produksi ikan patin pada 2011 mencapai 117.040 ton. Diperkirakan, produksi pada 2012 meningkat sekitar 15% dibandingkan dengan angka selama tahun sebelumnya.

Adapun produksi ikan Sumsel secara keseluruhan mencapai 291.375 ton. Budidaya ini tersebar di beberapa daerah, seperti Kabupaten Muara Enim dan Musi Banyuasin. Selain ikan patin, Sumsel juga memproduksi ikan lele, nila, dan ikan air tawar lain.

Sri melanjutkan selama ini Sumsel sudah berhasil menjadi pemasok utama ikan patin untuk wilayah Lampung, Jambi, dan Jakarta. Dengan dukungan fasilitas yang akan diberikan Pemerintah maupun Pemerintah Provinsi, tidak menutup kemungkinan Sumsel bisa mengekspor produk perikanan itu.

Rencananya, lanjut Sri, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) akan membangun pabrik pengolahan patin berkapasitas 25 ton. Tak hanya itu, Pemerintah juga akan mendirikan rumah kemasan untuk memberikan value added bagi hasil olahan tersebut.

“Nantinya kan ikan patin itu bisa diolah menjadi berbagai macam olahan, seperti nugget. Tentu saja harus ada infrastrukturnya. Rencananya akan dibangun berbagai fasilitas untuk mendukung industrialisasi itu,” paparnya.

Dia mengemukakan peningkatan produksi budidaya ikan patin Sumsel didukung oleh faktor biaya pakan yang relatif lebih murah dibandingkan dengan daerah lain. Pasalnya, pembudidaya ikan patin di Sumsel bisa membuat pakan sendiri sehingga tidak bergantung pada pakan pabrikan.

“Patin Sumsel bisa berdaya saing karena biaya produksinya lebih rendah. Mayoritas petani membuat pakan sendiri,” ujarnya.
Dia menambahkan Sumsel dalam waktu dekat ini juga akan membangun pusat pengembangan perikanan umum dan darat untuk mendukung budidaya berbagai jenis ikan, termasuk ikan langka seperti ikan belida. Pembangunan pilot project Pemerintah itu diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp18 miliar pada tahap pertama 2013.

Selain itu, untuk mendukung rencana menembus pasar ekspor patin, menurut Sri, sudah ada beberapa investor dari Amerika Serikat yang tertarik untuk menanamkan modalnya dalam hal teknologi peningkatan produksi.

Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumsel Yohanes H Toruan mengatakan investor asal AS menawarkan nilai investasi hingga Rp3 triliun untuk green economy.

Dia mengatakan Pemerintah ingin menangkap investasi ekonomi hijau itu karena mempunyai potensi sektor perikanan untuk pengentasan kemiskinan.

“Produksi patin di Sumsel ini masih membutuhkan pasar sementara produksi patin Vietnam yang selama ini memenuhi kebutuhan AS sudah tidak cukup, jadi sangat pas,” jelasnya.

Sekedar diketahui, kebutuhan ikan patin dalam negeri masih bergantung pada impor dari Vietnam yang bisa mencapai 600 ton per bulan. (Sumber :  Bisnis Sumatra)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.