Sulteng Galakkan Tambak Udang Supra Intensif

Benih Udang Vannamei

Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah pada 2013 akan mulai mengembangkan teknologi tambak udang supra-intensif, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi udang yang selama ini perkembangannya lambat.

Menurut Kepala Dinas KP setempat Hasanuddin Atjo teknologi tambak supra-intensif ini akan diuji coba pada fasilitas instalasi Unit Pelaksana Teknis Daerah Perbenihan Dinas KP Sulteng di Kelurahan Kampal, Kabupaten Parigi Moutong.
“Insya Allah penebaran perdana benih akan kami lakukan pada April 2013 menggunakan udang vaname,” katanya. di Palu, Rabu (20/3).

Hasanuddin Atjo yang juga Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) wilayah timur Indonesia itu mengatakan teknologi budi daya udang supra intensif ini sudah ia terapkan pada areal pertambakan udang miliknya di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan yang memproduksi udang vaname 15,3 ton per 1.000 meter persegi atau 153 ton per ha.

“Produksi ini disinyalir oleh sejumlah profesional perudangan Indonesia sebagai tertinggi di dunia karena Meksiko yang sebelumnya mengklaim tertinggi di dunia, produktivitasnya baru sekitar 110 ton per ha,” ujarnya.

Ia menjelaskan tambak supra-intensif yang akan dibiayai oleh Dinas KP Sulteng ini sebanyak dua buah, masing-masing berbentuk silinder berdiameter 10 meter yang mampu menampung air 250 ton. Setiap tambak akan ditebari 100.000 ekor benih udang vaname F1 ( turunan pertama) yang didatangkan khusus dari Makassar.

Setiap tambak akan dilengkapi dengan kincir air yang ideal, alat pemompa oksigen, pemberian pakan secara otomatis serta alat penyedot limbah yang mengengap di dasar tambak.

Periode budi daya direncanakan sekitar 90-100 hari dan bila menerapkan teknologi ini secara utuh dan konsisten maka diprediksi produksinya bisa mencapai antara 1,25 sampai 1,50 ton per tambak per musim tanam atau produktifitasnya antara 5 – 6 kg per ton air.

Apabila uji coba ini berhasil, kata Atjo, maka ada beberapa manfaat yang akan didapatkan antara lain menjadi lokasi percontohan bagi pengusaha dan pelajar sehingga tidak perlu jauh-jauh studi banding ke Kabupaten Barru Sulawesi Selatan serta membuka lapangan usaha bar dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Bila diasumsikan nantinya Sulawesi Tengah memiliki 1000 ha saja tambak supra-intensif dengan tingkat produktifitas mencapai 100 ton/ha/siklus, maka paling tidak dalam setahun provinsi ini akan memproduksi 200.000 ton udang, jauh meningkat dari produksi selama ini 6.000 ton per tahun.

“Nilai ekonomi yang diperoleh dari udang sebagai bahan baku (belum ada olahan nilai tambah) akan mencapai US$5miliar dengan asumsi harga udang Rp40.000/kg. Ini satu jumlah yang luar biasa,” ujarnya.

Untuk merealisasikan tujuan ini, kata Atjo, sangat dibutuhkan dukungan berupa regulasi atau intervensi pemerintah, infrastruktur jalan, listrik, pelabuhan dan irigasi tambak serta dukungan pembiayaan perbankan. (Sumber : Antara)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response