RI & Malaysia Kerjasama Ekspor Ikan Arwana

Budidaya Ikan Arwana

Indonesia dan Malaysia akan melakukan kerjasama di bidang bisnis. Bisnis yang akan dikembangkan adalah penangkarang dan peternakan ikan berharga tinggi, arwana.

Bisnis ini akan dilakukan dua perusahaan yaitu LTT Aquaculture Sdn Bhd, perusahaan peternak ikan empurau terbesar di Malaysia, dan Sun Heng Aquarium, perusahaan peternak, pengembang biak, dan pengekspor Arwana di Pontianak, Kalimantan Barat Indonesia.

Managing Director LTT Aquaculture Bill Lu Thian Tack mengatakan, joint venture yang dilakukan untuk mengembangkan arwana berwarna super merah (super red), yang merupakan arwana termahal di antara jenis arwana lainnya. Yang berwarna hijau adalah jenis arwana yang biasa dan yang lainnya berwarna abu dan berekor merah.

“China adalah pasar yang besar untuk arwana dan bisa menyerap hingga 30.000 ekor per bulan. Ikan ini bisa dihargai RM 2.000 (Rp 6 juta) dan RM 10.000 (30 juta) satu ekornya, tergantung dari warna dan ukuran,” katanya dikutip The Star, Senin (24/3/2014).

Lu mengatakan, arwana dianggap sebagai ikan “feng shui” dan sebagai simbul dari keberuntungan dan kesejahteraan. Menurut kebudayaan Dan kepercayaan orang Asia, sisik lebar. Dan sungut ganda yang ada di ikan arwana adalah sebuah simbol yang dimiliki naga China.

Lu mengatakan, Sun Heng Aquarium yang saat ini mengkespor arwana ke China lewat Jakarta, memilih LTT Aquaculture sebagai rekan bisnis yang mengekspor empurau ke restoran-restoran terkemuka di Hong Kong, Macau, dan China.

LTT Aquaculture memiliki sekitar 20.000 ekor empurau yang dipasarkan, juga disebut sebagai “raja sungai Sarawak” yang dijual seharga RM 750 per kg ke importir di Hong Kong.
Dia mengatakan, seluas 13,5 hektar kolam ikan yang miliknya tidak dikembangkan akan digunakan untuk kolam lumpur, infrastruktur dan fasilitas lain untuk peternakan arwana.

“Ikan arwana Sun Heng yang dikembangkan di Pontianak, Kalimantan Barat, berada di kolam seluas 100 hektar. Mereka akan memberikan bibit, dan melakukan peralihan teknologi pengembangbiakan arwananya dalam proyek kerja sama ini.

“Aktifitas peternakan dan pengembangbiakan ini diharapkan bisa dimulai awal tahun depan setelah infrastrukturnya selesai,” tambah Lu.

Dia mengatakan, dalam mengekspor arwana dibutuhkan inzin yang dinamai CITES (The Convention on International Endangered Species of Wild Fauna and Flora), untuk menambah daftar pengekspor ikan hias. Saat ini ada dua perusahaan yang memegang izin itu di Sarawak.

“Kita memulai produksi massal dari empurau untuk dijual ke peternak dan petani secara lokal dan ke luar. Kita bisa memproduksi 300.000 ekor per tahun, tiga kali lipat dari 100.000 ekor menyusul ekspansi peningkatan fasilitas yang dilakukan,” katanya. (Sumber : Detik Finance)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.