Petani Banyuwangi Sulap Sawah Jadi Kolam Pembibitan Ikan

Benih Nila Gesit

Serangan tikus di musim tanam kali ini membuat petani rugi besar. Sebab, tanaman padi menjadi rusak bahkan gagal panen. Namun, di tengah “musibah” tersebut, sejumlah petani di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, punya kiat yang layak dicontoh.

Hama tikus memang sudah merajalela di beberapa daerah di Banyuwangi. Banyak petani kalang kabut menghadapi hewan perusak tanaman itu. Pemkab Banyuwangi pun sudah turun tangan dengan memberi bantuan obat pemberantas tikus. Namun, ternyata itu belum cukup.

Salah satu faktornya adalah pola tanam para petani tidak seren tak. Alasan itu harus segera di pertimbangkan kalangan petani jika tidak ingin gagal panen pada musim-musim mendatang. Ancaman gagal panen seolah sudah diprediksi sebagian petani di Dusun Sumberejo, dan Panjen, Kecamatan Sempu.

Sebab, mereka tidak lagi menanam padi. Mereka me nyulap lahan pertanian menjadi kolam pembibitan ikan. Langkah itu bukan usaha kosong. Sebab, usaha pembibitan ikan ter sebut menguntungkan. Mereka tidak merasakan gagal panen seperti para petani lain.

Alam termasuk salah satu faktor pendukung petani beralih profesi menjadi peternak ikan. Sebab, di lokasi tersebut air melimpah dan cuaca tidak terlalu panas. Bukan hanya itu, kondisi air yang mengalir di persawahan itu juga terbilang jernih. Ikan yang dibudi daya di persawahan tersebut terdiri atas bermacam jenis.

Ada yang memelihara ikan koi, tombro, dan ada pula yang me melihara ikan nilaBibit yang sudah ditabur akan dipanen 50 hari kemudian. “Ikan lele tidak,” cetus Iwan Setiawan, 32, petani setempat.

Pada musim panen kali ini permintaan ikan cukup tinggi. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan lokal Banyuwangi masih belum mampu. Pasalnya, stok bibit ikan ma sih kurang. ‘’Satu ton sampai dua ton bisa habis dalam sehari, tapi ikannya yang tidak ada,’’ kata pria yang menggeluti usaha pembibitan ikan itu.

Menurut Iwan, harga tawar ikan yang ting gi sebenarnya menambah keuntungan petani. Namun, pasokan bibit ikan masih kurang. ‘’Padahal, satu ikan koi seberat 4 kilogram harganya bisa Rp 2 juta,” terang ke tua Asosiasi Ikan Koi Banyuwangi itu. Untuk menambah stok bibit ikan, dia mendatangkan dari luar daerah. Sebab, di Bumi Blambangan bibit ikan koi sulit di dapat.

“Saya cari di Blitar, karena barang di sini gak ada,” papar suami Sumiatun, 35, itu kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi di sela-sela panen ikan di Dusun Panjen kemarin. Banyak pelanggan yang mengambil bibit ikan hasil budi daya Iwan. Jika di jumlahkan, ada sekitar 50 orang yang ter sebar di berbagai daerah di Banyuwangi.

‘’Orang-orang yang membeli kepada saya juga dikembangbiakkan di sawah-sawah mereka,” jelas bapak Brian Pradana itu. Dalam sebulan, Iwan bisa mengantongi pemasukan hingga belasan juta rupiah. Sebab, nyaris setiap hari bibit ikan yang di sebar di beberapa titik itu dipanen.“Rata-rata omzet Rp 15 juta,” jelasnya.

Namun, hal itu bukan tanpa hambatan. Salah satu hambatannya adalah limbah ternak ayam. ‘’Kalau kotoran ayam dibuang ke sungai, ikan pasti banyak yang mati,” jelasnya. Di sisi lain, dia menolak bantuan pemerintah berupa bibit benih. Sebab, nilai bantuan berupa bibit ikan tidak sesuai dengan barang.

‘’Misalnya dapat bantuan Rp 65 juta, tapi bantuan diberikan berupa ikan paling-paling hanya senilai Rp 10 juta. Saya memang tidak mau dibantu kalau bibitnya jelek,” kritiknya. (Sumber : Radar Banyuwangi)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.