Pesisir Selatan Purworejo, Dari Padang Gersang Ke Tambak Vanamei

Tambak Vanamei Purworejo

Sekitar tujuh tahun silam, kondisi pesisir Desa Gedangan Kecamatan Purwodadi masih berupa hamparan pasir yang gersang. Sedikit warga yang memanfaatkannya untuk budidaya tanaman atau perikanan. Hanya perikanan tangkap dengan lokasi perburuan sungai dan rawa yang berkembang pesat.

Namun, lambat laun paradigma ‘tangkap’ berubah menjadi ‘budidaya’, ketika mereka dikenalkan dengan spesies udang Vanamei. Warga berpikir, kawasan payau itu bisa dimanfaatkan untuk tambak. “Hasilnya pasti lebih menggiurkan dibandingkan menangkap ikan,” kata Yuswandi (43) petambak di Gedangan kepada KRjogja.com, Kamis (14/2).

Warga mulai membuat petak tambak dan membudidayakan komoditas itu. Namun pada masa rintisan itu, petambak yang memang belum berpengalaman banyak terkendala.

Mereka menghadapi labilnya tanggul tambak serta banyaknya hewan pengganggu. Selain itu, lokasi tambak yang berada di sekitar sungai pasang surut menyebabkan pasokan air tidak lancar sepanjang tahun.

Namun mereka tidak patah semangat. Seiring berjalannya waktu, petambak menemukan cara mengatasi persoalan itu. “Kami memasang penguat tanggul dari plastik atau asbes. Ternyata efektif mencegah tanggul longsor dan gangguan hewan perusak seperti kepiting,” tuturnya.

Ketua Kelompok Petambak Mino Lestari Gedangan Turiman (47) menambahkan, sebagian petambak bahkan mencoba metode baru budidaya menggunakan tambak berlapis plastik. Budidaya itu dilakukan pada gumuk pasir di dekat pesisir. Untuk pengairan, petambak membuat sumur bor.

Ternyata, usaha itu lebih efektif dan mampu meningkatkan hasil secara signifikan kendai modal yang dikeluarkan lebih besar. Untuk sebidang tambak berukuran 10 x 20 meter, lengkap dengan sumur bor, pompa serta kincir, petambak harus mengeluarkan modal minimal Rp 20 juta.

Akan tetapi, nilai itu bisa kembali dalam beberapa kali masa panen. “Balik modalnya tidak lama, pasalnya hasilnya memang lebih banyak,” ungkapnya.

Untuk tambak 10 x 20 meter, dapat diisi 50 ribu benur Vanamei. Ketika dipanen, akan menghasilkan sedikitnya enam kuintal udang ukuran 80 ekor perkilogram. Angka kematian kurang dari lima persen, sedangkan tambak biasanya mencapai 10 – 15 persen. “Kalau harga stabil Rp 40.000, petambak dapat penghasilan kotor Rp 24 juta. Dikalkukasi dengan pengeluaran, keuntungannya masih lumayan banyak,” terangnya.

Keuntungan menggiurkan itu pun menarik warga untuk membudidayakan udang Vanamei baik di tambak lumpur atau plastik. Bahkan, usaha itu juga diikuti sejumlah desa tetangga. “Gedangan sudah punya sepuluh hektare tambak dan masih mungkin bertambah, kami tidak menyangka pesisir yang dulunya gersang bisa diolah menjadi tambang uang dengan budidaya udang,” tandasnya. (Sumber : KR Jogja)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.