Pengusaha Jepang Kembangkan Tambak Udang Sistem Silvofishery

tambak udang silvofishery

Sejumlah pengusaha asal Jepang yang bernaung di bawah payung YL Invest Co Ltd menjadikan tambak udang milik Kelompok Tani Kharisma Bintan di Sei Tiram, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) sebagai model pengembangan tambak udang dengan sistem silvofishery untuk melestarikan hutan mangrove.

Seusai mengunjungi tambak udang di Sei Tiram, Bintan, Kepri, Minggu (3/2/2013), Direktur YL Invest Co Ltd, Naoto Akune mengatalan, pengembangan tambak udang dengan sistem silvofishery atau mereformasi lingkungan dengan menanam bakau di dalam tambak udang merupakan upaya efektif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat pesisir tentang pentingnya melestarikan hutan mangrove.

Akune menambahkan, pengembangan tambak udang dengan sistem silvofishery yang memadukan hutan mangrove jenis bakau dan api-api di dalam tambak udang dan ikan bandeng sudah dilakukan petani tambak udang di Pulokerto, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur di bawah binaan Akademi Perikanan Sidoarjo (APS) dan YL Invest Co Ltd.

“Dulu, tambak udang di Pasuruan sudah banyak ditinggalkan pemiliknya karena budidaya udang dan ikan bandeng banyak gagal. Tapi, setelah ditanami mangrove jenis bakau dan api-api, pertumbuhan udang dan ikan bandeng menjadi bagus. Karena itu, petani menggarap kembali tambaknya,” papar Akune yang perusahaannya berbasis di Fukuoka, Jepang.

Ia menijelaskannya, model pengembangan tambak udang dengan sistem silvofishery yang memanfaatkan fungsi ekosistem mangrove sebagai biofilter polutan dapat meningkatkan kesuburan tanah tambak udang dan memudahkan tumbuhnya plankton sebagai sumber makanan udang dan ikan bandeng.

Model silvofishery yang sedang dikembangkan YL Invest Co Ltd bekerja sama dengan Akademi Perikanan Sidoarjo di Indonesia adalah mempertahankan vegetasi mangrove seluas 60 persen dan area kosong yang dijadikan kolam untuk budidaya udang dan ikan bandeng seluas 40 persen.

“Pada tahap awal, luas areal tambak udang yang kita jadikan model silvofishery di Bintan sekitar 2 hektar. Seluas 60 persen atau 120.000 meter persegi ditanami bakau sebanyak 8 ribu pohon. Sisanya 40 persen atau 8.000 meter persegi dijadikan kolam untuk tempat budidaya udang dan ikan,” kata Akune yang sudah 7 tahun memberikan pendampingan penanaman bakau di kawasan pesisir dan tambak udang di beberapa daerah di Indonesia.

Ketua Kelompok Tani Kharisma Bintan, Ady Indra Pawennari, mengapresiasi inovasi pengusaha Jepang yang tergabung dalam perusahaan YL Invest Co Ltd sebagai upaya memperkenalkan model pengembangan tambak silvofishery ramah lingkungan.

“Konsep silvofishery pada tambak udang ini cukup bagus. Jadi, udang dan ikan seolah-olah hidup di dalam habitat aslinya. Satu sisi, pada saat musim panas, udang dan ikan dapat berteduh di bawah pohon bakau. Di sisi lain, akar pohon bakau menyediakan makanan alami bagi udang dan ikan,” kata Ady.

Ady menyebutkan areal tambak udang dan ikan bandeng yang dikelola kelompoknya di Bintan mencapai 100 hektar. (Sumber : Kompas)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

One Comment on "Pengusaha Jepang Kembangkan Tambak Udang Sistem Silvofishery"

  1. anwar fukuoka February 4, 2013 at 9:49 pm -

    bener2 salut..orang jepang peduli sama hutan mangrove..patut di contoh dan kita wajib melestarikannya,,

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.