Muhammad Yusuf, ‘Sarjana Pengangguran’ Yang Sukses Jadi Pengusaha Ikan

carpe

Anggapan semua lulusan perguruan tinggi yang hanya ingin mencari pekerjaan baik di perusahaan swasta ataupun menjadi pegawai negeri harus diubah secepatnya.

Fakta membuktikan jumlah sarjana yang menganggur di Indonesia mencapai 492.343 orang. Kalaupun mereka ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS),itu pun sangat sulit sebab formasi PNS yang dibuka per tahun hanya untuk 70.000 orang.

Dampak dari ketatnya persaingan mencari usaha itu salah satunya melanda Muhammad Yusuf. Pria kelahiran Subang dan seorang lulusan sarjana jurusan Hubungan Internasional ini awalnya bercita-cita menjadi diplomat atau minimal bekerja di perusahaan nasional atau multinasional. Namun,berkali-kali dia mengirimkan lamaran dan ratusan wawancara pekerjaan tak kunjung didapatkan.

Alhasil,sejak lulus kuliah pada 2007,Yusuf menjadi pengangguran dan terpaksa bekerja serabutan setiap hari. Pria bertubuh kecil ini pernah menjadi kuli panggul ikan dengan upah Rp15.000 per hari.“Begitu pahit saya mengingat masa-masa itu. Dengan upah kecil itu,saya harus menghidupi anak dan istri,”kenangnya.

Namun, dengan tekad kuat dan kerja keras,sekarangYusuf yang awalnya bukan siapa-siapa, justru bisa menjadi pengusaha ikan terkenal di kampungnya,Desa Cijambe, Subang,Jawa Barat. Pengusaha ikan mas dan nila ini mampu meraup omzet 4 – 6 ton per bulannya.

Sejarah keberhasilanYusuf bermula ketika pada pertengahan 2007,dia direkomendasikan untuk mengikuti program Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) yakni Pendayagunaan Tenaga Kerja Mandiri dan Profesional (TKPMP).Program ini bertujuan menjaring minat dan potensi kaum muda untuk berwirausaha.

Selain mendapat pendidikan dan bimbingan, Yusuf juga mendapat modal sarana usaha seperti timbangan,tong besar,gas, dan jaring.Yusuf pun mulai bertransformasi menjadi seorang pemasar dan pembudi daya ikan mas dan nila dengan mengontrak pada kolamkolam milik tetangga.Yusuf bahkan sempat dipercaya menjadi salah seorang sarjana pendamping kelompok usaha perikanan pada 2010.

Jumlah petani binaannya mencapai 25 orang dan semakin membuka jalannya untuk menjalin kemitraan dengan para stakeholder dan pengusaha rumah makan dan pemancingan di daerah Jakarta,Bandung, Purwakarta,dan Bekasi.“Ada tiga permasalahan yang harus saya pecahkan dalam peternakan ikan ini yakni modal,pemasaran,dan manajemen,”ungkapnya.

Menakertrans Muhaimin Iskandar yang berkunjung ke peternakanYusuf mengaku kagum atas kesuksesannya. Muhaimin bahkan akan menjadikan contoh pria yang memiliki motto hidup: “kepercayaan adalah kunci keberhasilan” ini sebagai pengembangan program sarjana pendamping di seluruh daerah. Muhaimin mengatakan,di seluruh Indonesia ada sekitar 3.800 sarjana pendamping. “Kami akan memberikan bantuan dari dinas Rp50 juta bagi program pendampingan ini,”paparnya.

Muhaimin mengatakan, pengiriman sarjana pendamping ke daerah perkotaan dan pedesaan dilandasi pertimbangan bahwa masih banyak penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan dan pedesaan yang perlu didampingi untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat mencari pekerjaan sendiri atau membuka lapangan kerja mandiri.

Dia pun berharap sarjana pendamping ini dapat mengembangkan pelatihan wirausaha meliputi budi daya ayam,sapi,dan kambing,usaha konveksi,menjahit dan bordir, serta pengolahan hasil pangan dan pertanian. Selain itu,ada juga pelatihan tata rias pengantin, tata boga,bengkel motor, sablon dan percetakan, pengelasan,dan konstruksi skala kecil. (sindo)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.