Model Budidaya Ikan Nihil Limbah Segera Dibuat Di Lombok

Perikanan Budidaya Tanpa Limbah

Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), memastikan segera membuat model percontohan industrialisasi perikanan budidaya nihil limbah (zero waste) berbasis ekonomi biru (blue economy) di Lombok Timur dan Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada tahun ini.

“Lombok Timur adalah daerah Minapolitan Perikanan Budidaya. Ke depan akan kita lakukan kegiatan industrialisasi berbasis blue economy di Lombok Timur dan Lombok Tengah. Ini jadi satu percontohan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia,” kata Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto kepada sejumlah wartawan sesaat setelah membuka acara Pelatihan Budidaya Ikan Air Tawar Dengan Teknologi Natural Water System (NWS) di Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (17/1).

Menurut Dirjen Slamet, percontohan budidaya nihil limbah tersebut bakal memproduksi ikan sekaligus memanfaatkan sisa-sisa limbahnya seperti tulang ikan. Dia mencontohkan, budidaya lele yang akan diolah semua sisa limbahnya. Untuk program itu, KKP menggandeng FAO (Organisasi Pangan Dunia) untuk mengawal kegiatan ini. Rencananya, kata Slamet, pada Februari tahun ini, ahli perikanan dari FAO akan mengunjungi Lombok untuk memulai program itu.

“Lombok Timur termasuk daerah Minapolitan berbasis budidaya perikanan. Lombok Timur akan kita jadikan percontohan untuk perikanan yang berbasis blue economy yang bekerjasama dengan FAO. FAO akan mengawal perikanan budidaya di Lombok Timur bersama KKP. Pada Februari akan akan ahli FAO ke Lombok Timur untuk mendukung program perikanan budidaya di sini,” jelas Dirjen.

Lombok Timur, sambung Slamet, menyimpan potensi perikanan budidaya yang luar biasa besar, namun penerapan teknologinya masih rendah. “Sehingga di sinilah, kita akan sosialisasikan, untuk penerapan teknologi. Apalagi untuk menghadapi pasar bebas 2015,” imbuhnya.

Di samping persoalan teknologi, Dirjen Slamet mengakui adanya beberapa masalah klasik dalam pengembangan budidaya ikan, khususnya di Lombok Timur. “Beberapa permasalahan yang klasik seperti pakan tentu jawabannya dengan teknologi. Bagaimana mengefisienkan pakan. Pemerintah juga akan mempelajari untuk memberikan bantuan mesin pelet. Kita akan coba membuat pakan sendiri. Kita harapkan memakai bahan baku lokal, apakah di sini misalnya banyak ikan rucah, biji-bijian, dan bahan pakan,” beber Slamet.

Kerjasama DJPB-Gasbindo

Pada kesempatan itu, DJPB dan Gabungan Serikat Buruh Indonesia (Gasbindo) menggelar pelatihan untuk para pembudidaya dalam rangka meningkatkan keterampilan memproduksi ikan. “Gasbindo ini kan masyarakatnya banyak dan semua lapisan. Dari masyarakat yang tidak punya pekerjaan, masyarakat yang kurang produktif, kita ajak untuk kegiatan perikanan budidaya. Gasbindo sangat peduli terhadap masyarakat ini. Kita bersinergi, bergandeng tangan untuk masyarakat. Kita harapkan Gasbindo terus bergandengan dengan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat,” papar Slamet.

Peserta pelatihan berasal dari berbagai kelompok budidaya ikan (Pokdakan) dengan latar belakang yang tak kalah beragam. Menurut informasi yang didapat Dirjen Slamet, tidak sedikit dari para pembudidaya tersebut yang sebelumnya berkelakuan kurang terpuji. Ada yang tukang mabok, bahkan berprofesi sebagai pencuri. Namun, kini mereka telah bertaubat dan beralih haluan menjadi pembudidaya ikan yang bersemangat.

Kisah kelakuan miring mereka sebelum menjadi para pembudaya ikan seperti dituturkan Slamet Soebjakto itu pun diceritakan oleh Ketua I Pengurus Besar Gasbindo Nur Muafah. Perempuan berjilbab ini menjelaskan, sebelum menjadi produsen ikan, beberapa di antara mereka yang kelakuannya meresahkan masyarakat seperti mabok-mabokan dan mencuri. Di antara pemabok dan pencuri itu, kini ada yang menjadi Ketua Pokdakan.

Gasbindo, dengan pendekatan kekeluargaan dan pertemanan merangkul mereka untuk berubah dan menjadi pembudidaya ikan. “Kita diawali dengan pendekatan keluarga, pertemanan. Kalau mereka diajak dari hati ke hati, tidak ada paksaan, pasti akan lebih mudah,” kata Nur.

Cerita tentang masa lalu para pembudidaya ikan itu juga diakui Baihaqi, Sekretaris Pokdakan Prau Berlayar yang beranggotakan 25 pembudidaya di Desa Lenek Lauk, Aikmel, Lombok Timur. Masa lalu yang kurang terpuji itu, menurut Baihaqi, lebih karena persoalan ekonomi. “Karena masalah ekonomi, pengangguran, kita seperti itu dulu. Tapi sekarang sudah berubah,” jelas Baihaqi. (Sumber : Neraca)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.