Mereka Yang Sukses Budidaya Ikan Nilem

Budidaya Ikan Nilem

Asep Dudung, pembudidaya ikan di Kampung Rancailat, Desa Mekarjaya Kecamatan Padakembang Kabupaten Tasikmalaya, merasakan betul betapa besar pengaruh nilem terhadap kehidupan keluarganya.

Pria yang menjabat ketua Kelompok Pembudi-daya Ikan “Karya Muda” di kampungnya itu berhasil membeli mobil pick up dengan cara tunai, sebidang tanah, hingga kolam. Itu setelah 13 tahun bergulat dengan nilem.

Ia pun mampu menghidupi sembilan orang tenaga kerja dengan upah rata-rata per bulan sebesar Rp 1.500.000, lebih besar di-banding Upah Minimum Kabupaten Tasikmalaya sebesar Rp 1.050.000.

Setiap bulannya, tidak kurang 4 ton ikan nilem berbagai ukuran berhasil dijual oleh Asep dengan omset sekitar Rp 100 juta. Bukan hanya pasar lokal yang digarap, Asep juga memasok ke Kabupaten Cianjur, Bandung, hingga Purwokerto di Jawa Te-ngah.

“Kebutuhan nilem itu tak pernah kosong, kami sering keteteran dalam me-menuhi permintaan konsumen,” kata Asep.

Harga ikan yang habitat aslinya berada di perairan umum itu cenderung stabil. Bahkan sejak empat bulan lalu, terus naik. Di tingkat petani, untuk benih atau huripan mencapai Rp 32. 000, dan untuk konsumsi Rp 17.000 per kilogram.

Apa yang disampaikan Asep dirasakan pula oleh Burhan Mulyadi (33). Penyuluh Perikanan Swadaya yang juga aktivis lingkungan itu tak bisa meninggalkan budidaya nilem. Meski kolam yang dikelola bersama Kelompok Benih “Mekar Saluyu” di Desa Mekarjaya kerap terkena limbah penambangan pasir Gunung Galunggung, tidak menjadi halangan untuk tetap membudidaya ikan.

“Hasil produksi kerap menurun hingga 40 persen, bahkan kadang-kadang ikan mati karena limbah. Namun kami berupaya bertahan,” kata Burhan.

Lokasi kolam yang biasa dimanfaatkan Burhan untuk  budidaya ikan nilem, berada persis di bawah aliran Sungai Cikunir yang menjadi lokasi tambang pasir Galunggung. Meski demikian omsetnya masih tergolong besar, dalam sebulan tak kurang dari 4 ton untuk jenis ikan nilem. Pasarnya tak jauh beda dengan Asep.

“Tetenong”
Ya, nilem telah banyak mengubah kehidupan masyarakat di kawasan Gunung Galunggung. Daya tariknya luar biasa dalam memberikan kehidupan. Ujang Suryana (40) warga Kampung Rancailat, Desa Mekarjaya, Kecamatan Padakembang, merasakan betul hal itu.

“Nilem telah menyelamatkan keluarga saya, saat ini kami tidak bisa lepas dari nilem,” kata ayah tiga anak tersebut.

Saat ini, penghasilan Ujang tak kurang dari Rp 1,5 juta per bulan. Jumlah tersebut terbilang bersih. Ujang juga memiliki kolam yang biasa dipanen dalam waktu lima bulan sebagai “tetenong” atau tabungan.

“Ya, bagi masyarakat di sini nilem sudah menjadi sumber kehidupan,” ujarnya. (Sumber : Kabar Priangan)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.