Mengenal Budidaya Ikan Sistem Bioplankton Inovasi Mustiaji

budidaya ikan sistem bioplankton

Kondisi ekonomi masyarakat kita semakin hari kian membaik,sehingga permintaan ikan konsumsi khususnya ikan air tawar terus meningkat. Namun peningkatan permintaan akan ikan konsumsi berbanding terbalik dengan daya dukung perairan dimana ikan-ikan konsumsi tersebut dibudidayakan.

Selain lahan perkolaman yang semakin sempit , debit air kian menge cil juga disebabkan kualitas air dimana ikan dapat hidup mutunya makin kurang baik, demikian juga kaitannya dengan hama dan penyakit .

Mustiaji 30 tahun alumni SPP Negeri Mataram jurusan budidaya perikanan, merupakan salah seorang pelaku utama dan pelaku usaha yang juga sebagai pengurus UPR “ Tunas Karya “ di Dusun Kroya, Lingsar,Kabupaten Lombok Barat akhirnya menemukan cara baru untuk mengatasi kegalauan yang disebabkan kondisi perairan kita yang semakin hari semakin kurang bersahabat yaitu dengan cara

Budidaya Ikan Sistem Bioplankton.

Sore hari ditengah kesibukannya mengelola lahan seluas 11,7 Ha dan mengatur karyawannya yang berjumlah 24 orang, Mustiaji bersedia menerima dan berbagi ilmu dengan penulis berkaitan dengan budidaya ikan sistem bioplankton.

Tujuan budidaya sistem bioplankton adalah mengupayakan kualitas air tetap optimal dari aspek fisika,kimia dan biologi,serta kuantitas air cukup sehingga budidaya ikan dapat dilakukan dengan baik , walaupun baku mutu kualitas air kurang baik dan debit air semakin mengecil .

Tahapan Budidaya Ikan Sistem Bioplankton

  1. Minimal lahan yang digunakan untuk kolam adalah seluas 500 m2, hal ini dimaksudkan agar intensitas matahari yang masuk kedalam air kolam cukup tinggi sehingga plankton dapat tumbuh dengan baik.
  2. Seluruh dinding pematang bagian dalam dipasang bedengan bambu yang sudah dianyam (bedeg) atau dapat juga dipasang terpal. Terpal yang biasa digunakan berukuran 2m x 100 m dipotong horizontal menjadi 2 sehingga berukuran 1m x 200m.
  3. Kedalaman kolam sekitar 80 cm, dan ketinggian air kolam 60 cm, sehingga pemasangan bedeg ataupun terpal disesuaikan.
  4. Pemasangan pintu pemasukan dan pengeluaran air menggunakan pipa AW 4 “, disertai pemasangan saringan menggunakan waring.
  5. Pembuatan kemalir dengan kedalaman minimal 30 cm dan lebar 1 meter.
  6. Pengolahan tanah dasar : Pengeringan lahan minimal 1 minggu,kemudian dilakukan pengapuran dengan dosis 7 gram/m2,dan pemupukan sebaiknya menggunakan pupuk kandang berupa kotoran ayam petelur dengan dosis 500 gram/m2.
  7. Pengisian air kolam setinggi 30 cm selama 1 minggu ,jika kurun waktu tersebut air berkurang maka harus ditambah hingga kedalam 30 cm, sehingga setiap saat kita harus melakukan monitoring ketinggian air.
  8. Penebaran bibit untuk hasil akhir ikan nila konsumsi biasanya berukuran 5 – 8 cm dengan padat tebar 10 – 15 ekor/m2.Ditebar dengan proses aklimatisasi pada pagi atau sore hari, kemudian air dimasukkan hingga kedalaman air kolam mencapai 60 cm ( sebatas pintu pengeluaran air kolam ).Pemberian pakan untuk pemeliharaan dibulan pertama adalah sebanyak 3 % kali total berat ikan/hari diberikan 3x sehari pagi, siang ,dan sore.
  9. Selama 1 bulan pertama pemeliharaan air kolam harus tetap dipertahankan setinggi 60 dan air kolam tidak boleh terbuang, hal ini dimaksudkan pada 1 bulan pertama merupakan tahap penumbuhan plankton yang cukup tinggi dikarenakan intensitas cahaya matahari yang cukup tinggi akan terjadi proses simbiosis didalam air kolam seiring mulai adanya kotoran ikan dan sisa pakan yang akan menjadi pupuk bagi pertumbuhan plankton serta berkurangnya tingkat pencemaran akibat kotoran ikan dan sisa pakan tersebut.
  10. Air kolam akan nampak berwarna hijau jika plankton tumbuh dengan baik, penambahan air kolam jika berkurang dari ketinggian 60 cm sebaiknya dimasukkan air saat malam hari.Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi perubahan suhu air kolam yang menyolok yang dapat mengakibatkan plankton tidak dapat tumbuh dengan sempurna.
  11. Pada saat pemeliharaan di bulan kedua dan seterusnya biasanya terjadi tingkat pertumbuhan plankton yang cukup tinggi yang dikarenakan semakin banyaknya jumlah pakan yang diberikan yakni sebanyak 3 – 5 % x total berat ikan sehingga kotoran ikan lebih banyak pula dan memacu pertumbuhan plankton.Dengan demikian disarankan untuk memasukkan air secara terus menerus pada malam hari.
  12. Diakhir bulan keempat ikan sudah dapat dipanen dengan barat rata-rata antara 200 – 250 gram per ekor dan mortalitas berkisar antara 3 – 5 %.

Berdasarkan pengalaman Mustiaji Sang Penemu Budidaya Ikan Sistem Bioplankton yang saat ini mampu meproduksi ikan konsumsi 50 ton/bulan dan bibit ikan 20 ton/bulan menyimpulkan bahwa sistem ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan budidaya sistem air deras , keuntunganya antara lain :

  1. Penggunaan air lebih sedikit.
  2. Kualitas air relative lebih stabil.
  3. Pemberian pakan lebih sedikit.
  4. Hama dan penyakit ikan dalam kolam dapat diminilisir.
  5. Mortalitas lebih rendah.
  6. Penyusutan pada saat panen lebih rendah.
  7. Lebih tahan saat proses pengangkutan.
  8. Tingkat kekenyalan tinggi (tidak lembek).
  9. Pada saat diolah rasa ikan lebih gurih.

(Sumber :  Salim Pujianto/Penyuluh Perikanan Madya Bakorluh NTB)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.