Menanti Kebangkitan Budidaya Udang Nasional Melalui Biosekuriti

budidaya udang putih

Kejayaan budidaya udang nasional yang pernah dialami petambak Indonesia pada era 1980-an berakhir karena penyakit.

“Penyakit yang menyerbu komoditas udang pada dekade 80-an tersebut juga membuat hampir separuh dari industri udang intensif bangkrut dan tidak beroperasi,” demikian disampaikan Sekretaris Dirjen Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan Tri Hariyanto saat membuka lokakarya “Peningkatan Kapasitas Tanggap Darurat Penyakit Udang Indonesia”, di Jakarta, 14 Mei.

Akibatnya, ujar dia, produksi udang secara nasional pada saat itu juga dirasakan turun dengan drastis.

Ia memaparkan, untuk mengembalikan kejayaan udang nasional, pemerintah telah meluncurkan program revitalisasi tambak udang.

“Salah satu hal yang diterapkan dalam program revitalisasi tambak udang adalah penerapan biosekuriti secara efektif dan dijaga penerapannya,” katanya.

Tri Haryanto menjelaskan, biosekuriti adalah pengelolaan risiko biologi secara komprehensif dan sistematis untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan hewan, tumbuhan dan manusia serta menjaga fungsi dan keberlangsungan ekosistem.

Hal tersebut dinilai sangat penting terlebih pada era globalisasi sekarang ini, masyarakat lebih memperhatikan kesehatan, keamanan pangan dan juga perlindungan lingkungan.

“Penerapan biosekuriti yang efektif dapat mendorong peningkatan serapan pasar dan menarik investor,” katanya.

Selain itu, biosekuriti juga dinilai akan mendorong pembudi daya untuk menghasilkan produk perikanan yang sehat, aman dan berkualitas sehingga dapat meningkatkan harga jual.

Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkolaborasi dengan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) untuk meningkatkan produksi udang secara berkualitas dan berkelanjutan di Indonesia.

“Untuk mendukung dan mendorong pencapaian peningkatan produksi perikanan budidaya khususnya udang, pemerintah dalam hal ini KKP melakukan kerja sama dengan badan PPB, FAO,” katanya lagi

Ia memaparkan, program kerja sama tersebut akan menyusun sistem pencegahan penyakit hewan air khususnya pada komoditas udang.

Ia juga mengemukakan, sistem pencegahan penyakit udang terdiri atas lima kegiatan, yaitu pengawasan dan pelaporan penyakit, kesiapan dan rencana kontingensi darurat, sistem informasi kesehatan hewan perairan, pengelolaan pembudidaya dan biosekuritas, serta pembangunan strategi kesehatah hewan perairan.

Kerja sama ini, menurut Hariyanto, akan berlangsung selama 18 bulan yang mencakup penyelenggaraan lokakarya dan pelatihan baik berskala nasional maupun berskala internasional.

Program kerja sama itu juga akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait mulai dari kalangan pembudidaya, penyuluh, dan pemerintah daerah. Sedangkan lokasi yang akan menjadi tempat kegiatan proyek rintisan adalah Provinsi Lampung, Banten dan Jawa Barat.

Hasil program tersebut diharapkan dapat mendukung pembangunan perikanan budidaya berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat serta memperkuat kompetensi otoritas nasional di Indonesia dalam menerapkan sistem pengelolaan kesehatan ikan secara efektif.

Sementara untuk pengembangan industrialisasi udang, KKP juga telah melakukan revitalisasi tambak melalui perbaikan infrastruktur berupa saluran primer, sekunder dan juga saluran tertier.

Program tersebut untuk memberi jaminan pasokan air ke petakan tambak, sehingga diharapkan dapat mengoptimalkan kawasan pertambakan.

Selain itu, program itu terutama dilakukan di Pantura Jawa dan secara bertahap akan terus berlanjut pada kawasan pertambakan di daerah lain.

“Dalam mengembangkan budidaya udang yang berkelanjutan mutlak diperlukan dukungan ketersediaan benih udang unggul. Selain benih unggul, pembudidaya juga harus cepat tanggap terhadap wabah penyakit udang,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa udang merupakan salah satu komoditas utama dalam industrialisasi perikanan budidaya karena memiliki nilai ekonomis tinggi serta permintaan pasar yang juga besar.

Sebagai contoh, berbagai jenis ikan dan udang masih menjadi komoditas ekspor andalan bagi Provinsi Maluku, terutama ke pasar Thailand.

“Realisasi ekspor Maluku ke Thailand selama Maret 2013, terutama komoditas ikan mencapai 6,41 juta dolar AS atau sekitar 56,83 persen dari total nilai ekspor dalam periode yang sama,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Edison Ritonga di Ambon, Jumat (3/5).

Optimalkan pasar domestik

Kementerian Kelautan dan Perikanan juga menginginkan agar berbagai pihak terkait dapat mengoptimalkan pasar udang galah domestik yang semakin lama semakin prospektif dengan permintaan yang terus meningkat.

“Permintaan udang galah dalam negeri masih cukup tinggi. Misalnya, Jakarta membutuhkan setidaknya dua ton per hari,” kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto.

Selain Jakarta, menurut dia, beberapa daerah yang membutuhkan pasokan udang galah antara lain Bali, Yogyakarta, dan Bandung.

Slamet memaparkan, total pasar udang galah dalam negeri bisa mencapai 20 ton per hari.

“Diprediksikan, setiap tahun permintaan akan komoditas udang terus meningkat, seiring berkembangnya pariwisata di Indonesia,” ucapnya.

Apalagi, lanjutnya, dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara, banyak restoran-restoran yang juga turut menyediakan menu udang galah.

Selain itu, ujar dia, meningkatnya daya beli masyarakat Indonesia turut mempengaruhi meningkatnya permintaan akan komoditas udang galah.

“Harga udang galah di pasar domestik mencapai Rp50.000 – Rp60.000 perkilogramnya. Harga ini bisa menjadi berlipat-lipat jika sudah menjadi hidangan,” ujarnya.

Selain pasar domestik, tambah Slamet, udang galah juga sangat diminati pasar mancanegara.

Slamet mengemukakan bahwa pasar udang galah di luar negeri, terutama adalah Thailand, Jepang dan China.

“Bagi masyarakat tersebut udang galah merupakan menu yang sangat nikmat dan memiliki nilai protein yang cukup tinggi,” tuturnya.

Ia juga mengatakan, informasi yang didapat bahwa permintaan akan udang galah saat ini cukup tinggi dan belum mampu memenuhi karena masih kurangnya stok yang ada.

Bahkan, ujar dia, para eksportir udang galah bahkan menyampaikan bahwa pasar masih terbuka lebar.

“Tidak usah khawatir akan pasarnya karena pasti akan diserap pasar,” katanya.

Berdasarkan data KKP, produksi udang tahun 2012 adalah sebesar 457.600 ton atau mengalami peningkatan sebesar 32,87 persen dibanding produksi tahun 2011 yang sebesar 400.385 ton.

Dengan menjalankan pengoptimalan pasar domestik dan saat yang bersamaan meningkatkan biosekuriti pangan, maka kebangkitan komoditas udang diharapkan akan terjadi. (Sumber : Antara)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.