Mashuri, Untung Ratusan Juta Dari Ikan Koi

Ekspor Ikan Koi

Kota Blitar selama ini juga dikenal sebagai sentra budidaya ikan koi. Lihat saja, bila anda memasuki Kota Blitar, di sudut jalan Kota Blitar terdapat patung ikan koi, sebagai penanda kalau Kota Blitar adalah sentra Ikan Koi.

Boleh dibilang sebagian penduduk Kota Blitar menjadi peternak dan budidaya ikan koi, terutama mereka yang tinggal di dua kecamatan, yaitu Tambakboyo dan Kecamatan Kota Blitar. Seperti di Dusun Brisi Desa Tambakboyo, Kecamatan Tambakboyo, Blitar, separuh warganya menjalani profesi budi daya koi di samping menjalani aktivitas keseharian seperti petani dan membuat batu bata.

Di Kecamatan Tambakboyo terdapat 100 anggota Club Budidaya Ikan Koi. Adalah Mashuri (69), orang yang pertama kali yang memperkenalkan budi daya ikan koi kepada warga Tambakboyo. Kegiatan budidaya berawal dari kegemarannya terhadap jenis ikan koi yang bisa menghasilkan untung besar.

“Saya memulai budi daya ikan koi tahun 1982.Waktu itu saya pergi ke Sukabumi, Jawa Barat. Di sana terdapat 27 hektar lahan untuk budi daya ikan koi. Dari situlah saya punya ide untuk melakukan budidaya ikan koi di Blitar,” kata Mashuri.

Potensi Desa Tambakboyo Blitar sebagai sentra budidaya ikan koi sangat besar lantaran terdapat sumber air yang mengaliri kali-kali kecil di sekitar rumah penduduk dan sawah penduduk. Bahkan sumber air tersebut tidak pernah mati meski musim kemarau. Potensi tersebut menjadi modal untuk budidaya ikan koi bagi masyarakat dengan tujuan menambah pendapatan keluarga dan meningkatkan ekonomi masyarakat.Mula-mula dibangun kolam 1/5 hektar untuk budidaya ikan koi, dengan 2 ekor induk.

“Hasil budidaya ikan koi di Blitar sangat bagus dan tidak kalah dengan ikan koi dari Jepang. Bahkan permintaan untuk ikan koi dari luar daerah seperti Jakarta, Kalimantan dan Medan cukup tinggi. Bahkan para pembeli sering datang sendiri ke Blitar,” tambah Mashuri.

Untung Ratusan Juta

Dikatakan Mashuri, tujuan budidaya ikan oleh warga binaannya yaitu untuk meningkatkan ekonomi keluarga dan membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran. Dengan budidaya ikan koi warga tidak lagi bekerja ke luar negeri menjadi TKI/TKW. Alasannya keuntungan dari budidaya ikan koi sangat menjanjikan dan melebihi gaji seorang karyawan atau buruh pabrik. Setiap ikan koi yang ukuran 30-70 cm dijual dengan harga Rp 1 juta. Bahkan harga ikan koi paling murah Rp 300 ribu untuk ukuran sedang, sementara untuk ukuran kecil Rp 10-50 ribu per ekor.

“Istilah kami tidak ada ikan koi yang percuma, semua bibit ikan koi bernilai rupiah,” akunya. Selain keuntungan dari jual beli, para petani ikan koi juga mendapatkan keuntungan dari ajang kontes ikan koi.Di ajang kontes itu, para petani sering mendapatkan hadiah dan juga pengalaman dalam hal budidaya ikan koi.

Kontes dilakukan untuk promosi ikan koi kepada masyarakat, terutama jenis dan pola warna ikan koi. Selama ini jenis koi yang paling digemari oleh mayarakat,terutama wisatawan asing, adalah jenis kakau, merah putih,sintai,sowa. Ikan koi Blitar tidak kalah bersaing dengan ikan koi dari Jepang, pasalnya jenis ikan koi Blitar memiliki kelebihan warna dan panjang.

“Di Jepang budidaya ikan koi sudah maju dan jarang terkena virus.Sementara di Indonesia mudah sekali terkena virus karena rendahnya pengawasan dan pemeliharan. Juga debit air ikan koi sering menjadi masalah, sehingga virus mudah masuk,” terang pria yang menekuni budidaya ikan koi sejak tahun 1982 ini.

Ke depan Mashuri berharap pemerintah memberikan pembinaan kepada petani ikan terutama soal virus ikan koi. Dengan pembinaan dari pemerintah, para petani ikan koi bisa mendapatkan tambahan wawasan soal budidaya ikan koi. Karena tugas pemerintah adalah membina para petani ikan dan penyuluhan soal pentingnya budidaya ikan.

“Saya ingin masyarakat menekuni budidaya ikan koi. Dengan cara itu mereka bisa menjadi pengusaha dan enterprenur, sehingga tidak bergantung lagi untuk mencari pekerjaan di luar kota atau luar negeri. Karena dengan enterprenur mereka bisa sukses,” terang pria berkacamata ini dengan semangat.

Kendala di lapangan selama ini, kata Mashuri, kurangnya minat dari masyarakat untuk budidaya ikan. Faktor penyebabnya adalah rendahnya pendidikan dan minimnya semangat masyarakat untuk menjadikan diri sebagai wirausaha budidaya ikan koi. (Sumber : Bapemas Jatim)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.