Manajemen Penyakit : Kunci Sukses Budidaya Nila

penyakit nila

Meningkatnya kebutuhan industrialisasi pada budidaya ikan nila, mendorong para pembudidaya untuk meningkatkan kepadatan tebar nila/tilapia yang mencapai ribuan ekor per m3. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit. Intensifikasi budidaya ikanmenuntut pembudidaya melakukan perbaikan agar semakin efisien, tidak lagi mengandalkan potensi alamiah nila.

Pada sebuah acara temu pelaku usaha nila Keramba Jaring Apung (KJA) di Jogjakarta beberapa waktu lalu Neil Wendover, AquacultureTechnical Services & Market Support Manager for Asia – MSDAnimal Health membeberkan masalah intensifikasi pada budidaya nila memiliki konsekuensi munculnya tekanan yaitumenurunnya kenyamanan hidup ikan, kerentanan imunitas tubuh ikan, dan naiknya risiko penyakit.

Risiko penyakit ini sering tidak diketahui oleh pelaku. “Tahunya FCR (konvesrsi pekan) bengkak, atau SR (tingkat kehidupan) rendah, itu saja. Padahal dibalik semua peristiwa itu adalah ketidaknormalan, dan sebagian besarnya adalah karena penyakit,” kata Neil.

Tekanan pada tiga sisi kehidupan nila di atas tak hanya muncul pada perusahaan budidaya skala besar, namun juga pada pembudidaya skala kecil. “Karakteristik di Asia, skala budidaya nila memang kecil-kecil, tapi menempati satu kawasan yang sangat padat. Mereka memegang mayoritas volume produksi nila,” tutur Neil. Ia menggarisbawahi risiko pada pembudidaya skala kecil lebih besar karena rendahnya penguasaan manajemen budidaya yang benar.

Tuntutan Efisiensi
Menurut Neil, harga ikan nila dengan pertimbangan inflasi, tetap stabil dalam beberapa tahun. Padahalbiaya pakan telah meningkat bahkan berkali-kali dalam satu tahun. Hal ini menuntut perbaikan efisiensi dari sisi peningkatan daya hidup ikan (SR)dan FCR.

Padahal, kondisi lapangan menunjukkan semakin intensif budidaya akan semakin menekan daya hidup. “Critically, kebobolan pembudidaya adalah pada daya hidup ini. Kalau selama inikita puas dengan angka 80% kini saatnya harus mendekati 100% agar kita mendapat untung dari budidaya nila. Jangan lagi kematian tahun lalu 20%, sekarang 20% besok 20% lagi,” tegas Neil. Sifat ‘nrimo’ yang melekat pada para pembudidaya Asia, menurut Neil, harus mulai ditinggalkan untuk urusan ini.

Analisa Penyakit Pada Nila
Neil menjelaskan, penyakit muncul karena interaksi antara lingkungan, manajemen budidaya, eksistensi organisme patogen,dan lingkungan. “Kenali faktor pemicu interaksi itu, antara lain mutu benih, fluktuasi musiman, perubahan kualitas air, kualitas lingkungan, dan kualitas pakan,” terangnya. Menurutnya, kematian menjadi indikator utama kecurigaan berjangkitnya penyakit, baik yang terlihat maupun tersembunyi.

Neil menandaskanperlunya analisa penyakit melalui pendekatan analisa fisik/ekstrinsik dan analisa mikroorganisme patogen. Analisa ekstrinsik meliputi 4 langkah utama yaitu pemerikasaan farm dengan menganalisis sistem (SOP) budidaya, kapabilitas sumber daya manusia, dan kondisi kolam/karamba. Kedua, mutlak diperlukan rekaman produksi aktual dan masa lalu secara akurat.

Penyakit Nila Periode Awal
Neil memaparkan,penyakit nila yang menyerang sejak periode awal produksi harus dicermati karena bisa menggagalkan pencapaian target produksi dengan tingginya kematian dan mundurnya jadwal panen. Penyakit periode awal ini meliputi parasit, columnaris disease, iridovirus, dan jamur.

Parasit yang menyerang nila meliputi parasit protozoa (Oodinium, Trichodina, dan Ichthiophterius) dan parasit metazoa (Dactylogyrus, Lernea, dan Argulus). Biasanya terjadi pada ikan kecil atau yang stres/lemah. Parasit metazoa biasanya tak menyebabkan kematian tinggi, tapi menyebabkan munculnya berbagai penyakit pada periode berikutnya.

Lalu ada Columnaris disease yang disebabkan oleh Flavobacterium columnare yang menyerang pada saat suhu lingkungan turun, kepadatan tinggi, dan status nutrisi buruk. Tanda-tandanya meliputi munculnya lendir putih pada tubuh karena peluruhan lapisan epidermis, warna kulit kekuningan, insang dan mulut mengalami nekrosis. “Banyak menyerang perairan yang mengandung bahan organik tinggi,” kata Neil.

Menurutnya penyakit kronis yang bisa mengundang kematian tinggi ini bisa diatasi dengan merendam ikan pada air garam 6 ppt – 10 ppt sehingga bakteri tak bisa hidup. “Sebenarnya dengan antibiotik juga bisa, tapi banyak negara sudah melarang antibiotik untuk ikan,” sesal Neil.

Berbeda dengan penyakit columnaris, iridovirus menjadi tantangan besar karena belum ada obatnya sampai sekarang. Kasus bohle iridovirus pada nila dilaporkan di Australia. Di Kanada dilaporkan ditemukan pada pada benih (fingerling) yang diimpor dari Amerika. “Di Asia, hanya ditemukan di Indonesia,” tandas Neil. Menurutnya, ikan nila Indonesia yang diekspor melalui Singapura saat diambil sampelnya di laboratoriumbanyak yang mengandung virus ini.

Gejala serangan iridovirus antara lain ikan lemah, berwarna gelap, perut kembung, insang pucat, exophthalmia (mata menonjol keluar), rongga tubuh penuh air dan organ dalam pucat (terutama hati). Angka kematian mencapai 20% kematian benihfingerlings dalam sebulan atau beberapa saat setelah ditebar. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan sanitasi (biosekuriti) dan vaksinasi.

Infeksi iridovirus menjadi parah karena bersifat immunosupresif (menekan kekebalan) sehingga menyebabkan datangnya penyakit lain (komplikasi). Itulah mengapa iridovirus sulit ditemukan secara kasat mata, walaupun secara laboratoris dengan metode PCR banyak ditemukan.

Drh Yuli S Pancawati, Veterinary Representative for Aquaculture MSD Animal Health perwakilan Indonesia menyatakan iridovirus mula-mula menyerang pada ikan laut, tapi anehnya di Indonesia bisa menyerang ikan nila yang hidup di air tawar. Sampel positif pernah kami temukan di Jawa dan sekitar sungai Kapuas – Kalimantan.

Iridovirus bisa dicegah dengan vaksinasi melalui suntikan. Meskipun bisa diaplikasi melalui pakan, cara itu tidak direkomendasikan karena sulit memastikan kemerataan dan kepastian pakan yang telah diberi vaksin betul-betul termakan oleh ikan. (trobos)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.