Kualitas Benih Ikan Rendah, Produksi Ikan Tak Tercapai

Benih Ikan Nila Merah

Sulitnya memperoleh kualitas benih ikan yang baik menjadi salah satu kendala utama petani dalam budidaya ikan khususnya ikan air tawar seperti ikan nila. Kondisi itu mengakibatkan target dan kualitas produksi yang dihasilkan menjadi rendah.

Hal itu dikatakan Pimpinan Unit Pembesaran PT Aquafarm Nusantara Bambang Kuntorosetyo dalam acara Sosialisasi Program Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Penerapan pada Teknis Budidaya Ikan Air Tawar pada pembudidaya ikan air tawar di aula Hotel Niagara, Parapat, Simalungun, Selasa (10/12).

Kegiatan yang dikerjasamakan antara PT Aquafarm Nusantara dengan KKP ini dihadiri sekitar 49 orang pembudidaya ikan dari kawasan Danau Toba dan Serdang Bedagai (Sergai) serta Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara (Sumut).

Dikatakan Bambang, selain kualitas benih ikan, kendala utama lainnya yang dihadapi dalam budidaya perikanan adalah kematian ikan yang relatif tinggi, harga pakan yang mahal, teknis budidaya yang masih tradisional, dan konstruksi kolam ikan yang kurang memadai.

“Rendahnya kualitas benih ikan yang digunakan petani mengakibatkan target produksi ikan tidak tercapai, karena ikan tidak mau besar dan tingkat kematian ikan jadi tinggi. Menurut informasi yang saya dapat dari petani ikan yang berhasil hanya berkisar 40% saja. Jadi, tingkat kematian ikannya mencapai 60%,” jelasnya.

Selama ini, katanya, perolehan benih ikan petani di kawasan Danau Toba berasal dari Unit Pembenihan Rakyat (UPR) antara lain dari Kabupaten Simalungun, Medan, dan Kota Binjai.

“Tapi sekarang banyak petani ikan di kawasan Danau Toba yang sudah menggunakan benih yang diproduksi Aquafarm dengan maksud tidak mematikan usaha UPR yang ada,” kata Bambang.

Terhadap penggunaan pakan ikan Bambang juga mengaku sekitar 80%-90% petani ikan di Danau Toba sudah menggunakan pakan ikan apung. Namun, yang menjadi kendala baru bagi petani adalah tidak komitmennya mereka dalam memberikan makan.
“Mungkin karena kesibukannya yang lain sehingga ia lupa memberikan makan ikannya. Padahal, ketepatan waktu dalam pemberian makan juga menjadi perhatian penting budidaya ikan yang baik,” jelasnya.

Pendi Turnip, pembudidaya ikan yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, pihaknya memperoleh benih ikan dari Aquafarm dengan harga pembelian benih Rp 750 per ekor dengan berat benih antara 17 – 20 gram per ekor.

Petani ikan di Desa Salbe, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun ini mengaku telah menggunakan pakan ikan apung. Terhadap produksi, ia mengatakan, dari satu kolam ikan nila yang dihasilkan berkisar 30 ton, dengan berat ikan rata-rata 8 ons hingga satu kilogram per ekor. “Itu sesuai dengan permintaan pasar. Dan, panen saya lakukan selama enam bulan sekali,” ujarnya.

Pendi sendiri memiliki kolam sebanyak 36 unit yang terdiri dari kolam bulat 12 unit dan kolam per segi empat 24 unit. “Kedepan kami akan merubahnya menjadi kolam bulat semua,” jelasnya.

Namun yang menjadi kendala saat ini menurut Pendi adalah tingginya harga pakan saat ini. “Dalam tiga bulan terakhir ini sudah tiga kali harga pakan naik dari sebelumnya Rp 6.700 per kg menjadi Rp 8.050 per kg untuk pakan apung,” sebutnya. (Sumber : Medan Bisnis Daily)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.