Krisis Global Jadi Peluang Perikanan Budidaya

Kredit Perikanan Budidaya

Krisis finansial yang menerpa ekonomi dunia justru menjadi peluang bagus bagi sektor perikanan budidaya. Pasalnya, seiring dengan melemahnya daya beli pasar dunia, khususnya di Amerika Serikat dan Uni Eropa, produk perikanan yang harganya relatif kompetitif semakin menjadi primadona.

“Justru dalam krisis global ini, yang bisa terjangkau adalah ikan. Daging sangat mahal, ketersediannya juga terbatas. Yang bisa dikembangkan adalah ikan. Karena ke depan bukan saja orang sudah mempertimbangkan ikan aman dikonsumsi dan menyehatkan, tapi yang terjangkau masyarakat adalah ikan,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (DJPB KKP), Slamet Soebjakto, usai melakukan panen udang vaname di kawasan tambak udang percontohan di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, kepada Neraca, Sabtu (31/8).

Menurut Slamet, pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (US$) juga menjadi peluang bagi produk perikanan budidaya di Indonesia untuk unjuk gigi di pasar dunia. “Krisis global justru meningkatkan gairah. Sekarang untuk Indonesia, contoh, rupiah melemah. Pembudidaya udang ini senang, karena produk ini adalah ekspor. Keuntungannya tinggi,” sebut Slamet.

Saat ini, lanjut dia, peluang ekspor udang terbuka sangat lebar seiring dengan permintaan dunia yang semakin meningkat. “Pasar di dunia sekarang ini kekurangan bahan baku udang 300.000 ton. Kesempatan ini harus kita jadikan momen untuk peningkatan produksi udang nasional. Ini sebagai peluang emas udang nasional,” kata dia.

Hasil budidaya udang di Indonesia, hingga kini, diserap oleh pasar lokal sebanyak 50%, dan 50% lainnya untuk diekspor ke sejumlah negara. Pasar luar negeri umumnya menyerap udang dengan ukuran lebih besar ketimbang pasar lokal. Untuk pasar lokal, biasanya dipasok udang dengan ukuran satu kilogram sebanyak 70-100 ekor, sementara untuk pasar ekspor didominasi udang dengan ukuran lebih bisar, antara 70-40 ekor per kilogramnya.

“Dari semester I-2013 sampai bulan Juni, kita sudah tercatat 320.000 ton produksi udang. Sudah lebih dari 50% dari target total produksi 608.000 ton. Yang diekspor 50%. Dengan tentunya semakin meningkatnya konsumsi dalam negeri. Udang ini konsumsi lokal juga sangat tinggi. Untuk sekilo seratus ekor ini untuk kepentingan lokal. Tapi untuk sekilo 70-40 ekor untuk ekspor. Sekarang di Pekalongan ini untuk kepentingan lokal dan ekspor, karena permintaan dalam negeri juga cukup tinggi,” sambung Slamet.

Harga Tertinggi

Lebih jauh Slamet menjelaskan, harga udang saat ini mencapai harga tertinggi sepanjang sejarah perudangan nasional. “Rp 70.000 untuk ukuran 70 ekor. Untuk size 40 ekor, harganya sudah Rp 100.000 per kilogram atau sudah hampir menyentuh Rp 104.000,” sebutnya.

Dikatakan Slamet, untuk memenangi persaingan global, pihaknya sudah menyiapkan sertifikasi berupa good aquaculture practices. “Jadi ini suatu sertifikasi tingkat internasional untuk menghadapi perdagangan. Kedua, sistem pembudidayaannya bebas residu, bebas antibiotik. Ini untuk ke depannya untuk meningkatkan kualitas produksi udang. Terus juga sistem budidaya dengan intensif, closed system, untuk meningkatkan produksi,” ungkapnya.

Di samping itu, kata Slamet, KKP juga terus melakukan revitalisasi tambak untuk mengatrol produksi perikanan budidaya yang pada tahun ini dipatok sekitar 13 juta ton. “Tahun 2012 lalu, kita adakan revitalisasi tambak di Jawa Barat, di Banten. Tahun ini ada di 6 provinsi. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulsel, Sumut, dan Lampung. Di 27 Kabupaten. Tahun 2014 kita akan langsung perluas lagi di Kaltim, Kalbar, Sumsel, NAD, dan beberapa tempat lagi,” jelasnya.

Kantong-kantong produksi udang, menurut dia, akan disentuh dengan program demfarm (demonstration farm-tambak percontohan), revitalisasi saluran untuk tambak-tambak yang idle (terlantar). “Semester I-2013, untuk penyerapan khusus untuk revitalisasi tambak, yang pasti untuk bulan September, fasilitas sudah mulai didistribusikan ke masyarakat,” bebernya.

Dalam upaya peningkatan produksi perikanan budidaya, diakui Slamet, campur tangan atau intervensi pemerintah cukup besar. “Pertama, membuat percontohan ini, melatih para pembudidayanya, termasuk memberikan bantuan sarana-prasarana dan infrastruktur untuk jaringan irigasi. Termasuk BI, perbankan, memberikan bantuan yang cukup besar untuk pembangunan kapasitas pembudidaya,” urainya.

Yang tak kalah penting, jelas Slamet, pemerintah memberi fasilitas untuk menyelesaikan permasalahan sektor budidaya, baik yang datang dari dalam maupun luar negeri. “Jadi pemerintah ini hanya memfasilitasi saja. Seperti sekarang ini ada problem tuduhan subsidi dari Amerika. Pemerintah langsung menggalang kekuatan dan menjelaskan kepada Pemerintah Amerika dan membawa orang-orang Amerika datang ke Indonesia untuk melihat bahwa Indonesia tidak ada subsidi. Kita memfasilitasi. Hasilnya, Indonesia terbebas dari tuduhan subsidi,” paparnya. (Sumber : Neraca)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.