Investasi Perikanan Budidaya Tidak Beresiko Tinggi

Biskuit Ikan Patin

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meyakinkan berbagai pihak bahwa berinvestasi di perikanan budidaya tidak berisiko tinggi sehingga diharapkan lebih banyak investor yang berkecimpung di sektor tersebut.

“Persepsi bahwa usaha perikanan budidaya merupakan usaha yang `high risk` sebenarnya sudah dapat dideteksi dan diantisipasi,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto di Jakarta, Senin.

Slamet memaparkan beragam hal antisipasi dan mekanisme deteksi itu telah dapat dilakukan antara lain karena kemajuan ilmu pengetahuan, peningkatan teknologi dan upaya mitigasi dini.

Hal itu, menurut dia, juga menjadikan usaha perikanan budidaya menjadi usaha yang “calculated risk” atau dapat diperhitungkan dengan baik sebelum usaha budidaya dilakukan.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP memaparkan, potensi perikanan budidaya di Indonesia juga cukup besar sehingga merupakan peluang bagi Indonesia untuk dapat menarik baik investor maupun calon investor.

Terlebih lagi, lanjutnya, saat ini usaha perikanan budidaya mampu memberikan keuntungan dan waktu pengembalian investasi yang relatif cepat.

Berdasarkan data KKP, tingkat pemanfaatan lahan untuk perikanan budidaya payau (tambak) baru seluas 682.857 hektare atau 23,04 persen dari potensinya sebesar 2,96 juta hektare.

Sementara untuk pemanfaatan budidaya laut, terhitung masih relatif rendah yaitu 111.649 hektare atau 0,94 persen dari potensi budidaya laut yang mencapai luasan 12,55 juta hektare.

Sedangkan potensi perikanan budidaya air tawar mencapai 541.110 hektare. “Potensi ini perlu dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan,” ucapnya.

Sebelumnya, Slamet dalam sejumlah kesempatan juga menyatakan bahwa pemetaan sentra produksi benih di bidang budidaya perikanan sangat perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan benih di Tanah Air.

“Untuk mendukung program industrialisasi perikanan budidaya yang telah bergulir sejak tahun 2011, kebutuhan benih bermutu semakin hari semakin meningkat sehingga perlu dilakukan pemetaan sentra-sentra produsen benih secara nasional,” ujarnya.

Menurut Slamet, pemetaan sentra produksi benih untuk sejumlah komoditas unggulan seperti udang vaname, patin, nila dan lele perlu dilakukan guna mengatasi permasalahan distribusi benih dari sentra produsen benih ke sentra produksi perikanan budidaya.

Selain itu, ujar dia, peningkatan kemampuan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) maupun Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) perlu dilakukan agar mereka mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi benih.

Ia mengingatkan bahwa peningkatan target produksi perikanan budidaya yang mencapai 16,8 juta ton pada 2014, memerlukan dukungan ketersediaan benih bermutu dan induk unggul berkesinambungan. (Sumber : Antara)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.