Indonesia Jadi Rujukan Perikanan Budidaya Dunia

Budidaya Ikan Kerapu

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menyebut, perikanan budidaya di Indonesia kini menjadi rujukan dunia. Temuan dan penerapan teknologi anyar dalam peningkatan produksi terbukti menjadi magnet bagi dunia internasional untuk belajar ke Indonesia.

“Perikanan budidaya sudah lumayan menjadi rujukan di dunia. Mulai dari teknologi, termasuk bagaimana memberdayakan masyarakat, menguatkan kelembagaan,” ujar Slamet kepada Neraca saat kunjungan kerja di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi, Selasa (7/1).

Di tingkat Asia Tenggara, Slamet mencontohkan, Kamboja. Saat ini, belasan pembudidaya asal Kamboja sedang kursus perikanan budidaya di Indonesia, termasuk di BBAT Jambi. Contoh lain, lanjut Slamet, negara lintas benua yang belajar budidaya di Indonesia adalah Madagaskar, India, Tanzania, Sudan, bahkan hingga negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Oman dan Iran.

Sementara di kawasan Asia Pasifik, sambung Slamet, Indonesia menjadi rujukan utama budidaya air laut. “Mereka banyak belajar ke Indonesia budidaya ikan laut. Di Asia Pasifik, khususnya ikan kerapu. Kerapu di Indonesia termasuk yang paling maju. Yang berhasil membenihkan kerapu masal yang pertama ada di Indonesia. Di Situbondo, tahun 1996, pertama berhasil. Sekarang negara-negara Asia Pasifik belajar kerapu ke Indonesia. Kita termasuk yang pertama berhasil melakukan hibrid, mengawinkan kerapu jenis satu dengan yang lain,” cerita Slamet.

Selain menjadi rujukan utama budidaya laut, Indonesia juga menjadi rujukan budidaya air payau. Komoditas yang mereka pelajari antara lain ikan bandeng (milkfish), khususnya mengenai teknik pembenihan. Untuk air tawar, mereka belajar ikan mas, nila dan lele. “Mereka banyak tertarik belajar lele (catfish). Ternyata teknologi lele Indonesia paling maju. Pakai bilofloc. Boleh dikatakan bisa menurunkan pakan sangat signifikan. SCR-nya saja bisa 0,8. Mereka belum tahu sama sekali. Budidaya biasa saja mereka masih sangat awam, apalagi dengan teknologi seperti itu,” terang Slamet.

Ikan air tawar lainnya, yang mereka pelajari, adalah patin (pangasius). “Sebernarnya patin kita tidak kalah dari Vietnam. Hanya tinggal memanfaatkan potensi yang telah ada. Makanya kita sekarang manfaatkan lahan-lahan yang tidur, kita akan buat bagaimana kerjasama dengan pemerintah daerah, stakeholder, membangun pusat-pusat kawasan budidaya,” jelasnya.

Mengenai ikan emas dan nila, kata Slamet, negara-negara di atas belum memiliki bibit dan induk unggul. “Kita sudah punya jaringan induk unggul, hampir seluruh komoditas. Kita punya jaringannya. Kita punya jaringan induk unggul ikan mas, patin, lele, gurame, dan ikan lain kita punya. Indonesia juga menjadi contoh bagaimana mengatasi penyakit udang,” papar Slamet.

Kerjasama DJPB-JICA

Kaitannya dengan transfer teknologi dan bantuan hibah, DJPB KKP memang sudah lama menjalin kerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), persisnya sejak tahun 1998. Untuk kegiatan pelatihan di BBAT Jambi tersebut, JICA membawa sekitar 14 pembudidaya asal Kamboja untuk meningkatkan kemampuan mereka berbudiaya.

“Satu sisi ya JICA ini sudah lama bekerjasama dengan Indonesia. Memberikan satu penguatan, fasilitas, skill, transfer teknologi. Sehingga program kerjasama JICA dan Indonesia. JICA sedang melakukan pemberdayaan di Kamboja,” ungkapnya.

Selain itu, saat ini, di BBAT Jambi terdapat tenaga ahli perwakilan JICA, asli orang Jepang. “Kita dengan JICA ada silver expert yang kebetulan di Jambi. Silver expert di Indonesia akan membuat satu strange ikan mas yang tahan terhadap penyakit virus KHV (Koi Harvest Virus). Ke depan akan mengembangkan nila yang bebas virus spectokocus. Ini juga kerjasama yang sekarang sedang kita lakukan,” urainya.

Disinggung soal kemungkinan pengetahuan perikanan budidaya “dicuri” negara lain, Slamet memastikan hal itu tidak akan terjadi. “Yang perlu kita sampaikan, bahwa pelatihan ini, tentu saja kita tidak khawatir ilmu kita akan terserap oleh mereka. Kita punya kebijakan. Hal-hal yang strategis, kunci, tidak kita sampaikan semua. Kita tidak terlalu riskan. Di Kamboja itu mayoritas ikan itu didapatkan dari hasil tangkapan. Mereka ingin sekali seperti di Indonesia. Belum ada tempat pelatihan. Benihnya mayoritas impor,” bebernya.

Pada kunjungan kerja kali saat itu, Dirjen Slamet bersama ahli dari JICA, perwakilan pemerintah Kamboja, dan rombongan berkesempatan menemui Gubernur Jambi Hasan Basri Agus di kantornya. Hasan, pada pertemuan itu, menyebutkan bahwa sebagian besar masyarakat Jambi bekerja di sektor perikanan. Perikanan budidaya, kata dia, masih mendominasi dibanding perikanan tangkap.

Akan tetapi, beberapa waktu lalu, para petani ikan di sana mengeluhkan soal mahalnya pakan. Sampai-sampai, cerita Gubernur, banyak tambak yang tutup akibat tak mampu berproduksi. Pada 2008, sekitar 500 tambak dan kolam ikan sempat ditutup karena masalah pakan. Itu sebabnya, Pemprov Jambi, bekerjasama dengan swasta, akhirnya membangun pabrik pakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di Jambi, komoditas perikanan budidaya yang jadi andalan adalah ikan patin. Selain itu, pemerintah setempat juga mengembangkan ikan jenis lain seperti mas dan nila. (Sumber : Neraca)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.