Imlek, Harga Ikan Dewa Capai Rp. 1 Juta Per Kg

IKan Tor Tambra

Menjelang sampai dengan saat perayaan Tahun Baru Imlek, Minggu (10/2) kemarin, Ikan Dewa atau ikan dengan nama latin Tor Tabroides banyak diburu warga Tionghoa untuk dikonsumsi pada pesta perayaan Imlek.

Bing Urip Hartoyo (41) warga RT 5 RW 2 Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok merupakan satu-satunya pembudidaya Ikan Dewa di wilayah Kabupaten Banyumas, mengaku menjelang Tahun Baru Imlek sampai saat hari Imlek datang, banyak menerima pemesanan dari para konsumen.

“Bahkan sampai hari ini, masih juga beberapa warga Tionghoa meminta kami untuk melayani pembelian ikan dewa tersebut” katanya, Senin (11/2), di kolamnya.

“Pemesanan cukup banyak, mereka memintanya yang ukuran besar sebagai santapan istimewa. Sebagaimana tradisi komunitas warga keturunan tionghoa di Indonesia, ikan dewa atau ikan jurung ini sebagai sajian istimewa merayakan Imlek,” katanya Bing Urip Hartoyo.

Ia melakukan pemijahan ikan dewa lantaran selama ini belum ada yang melirik membudidayakannya. Padahal ikan dewa banyak ditemui di sungai-sungai. “Ikan dewa ini kerap dipancing oleh warga di sungai-sungai bagian hulu. Orang sini menyebutnya ikan lempon. Nah, ikan dewa ini pembiakannya terbilang sangat lama, membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun, maka saya lakukan pemijahan (peneluran dan pembibitan -red) agar tidak punah,” jelasnya.

Harga ikan dewa ini terbilang fastastis. Ia menuturkan perkilonya mencapai Rp 1 juta. “Perkilonya seharga Rp 1 juta. Ikan dewa yang saya budidayakan ini beratnya dua sampai lima kilogram/ekor. Padahal di Himalaya beratnya ada yang mencapai 15 kg,” terang ayah dua anak ini.

Karenanya, ikan dewa yang dimitoskan oleh masyarakat Tionghoa Indonesia sangat potensial sebagai komoditi unggulan khas Banyumas. “Di Malaysia budidaya ikan dewa sudah jadi industri bernilai ekonomi tinggi. Kenapa di Indonesia yang memiliki habitat asli ikan dewa belum dikembangkan oleh pemerintah ?” katanya.

Ia menjelaskan, selama ini masyarakat umum Indonesia justru menilai Ikan Dewa sebagai hal keramat, sehingga tidak boleh dibudidayakan. “Selama ini ikan dewa dianggap memiliki mitos, seperti di Cibulan, Jawa Barat konon jelmaan prajuritnya Siliwangi yang membangkang. Padahal termasuk ikan air tawar biasa yang pada zaman dulu hanya dikonsumsi oleh para raja. Ini yang sangat disayangkan jika tidak dibudidayakan,” ujar Urip Hartoyo.

Karena Urip Hartoyo tidak percaya dengan mitos terebut, maka Ia pun memeliharanya. Di kolamnya yang berada di belakang rumahnya itu, ikan-ikan Dewa yang dikelolanya kini tinggal ratusan ekor karena habis dipanen untuk Imlek. Tetapi dirinya optimis, karena puluhan ribu induk ikan dewa hasil dari pemijahan selama tiga tahun terakhir ini sudah siap untuk dibesarkan lagi. (Sumber : KR Jogja)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.