Ikan Jurung, Potensial Namun Belum Dibudidayakan

ikantorsoro

Mungkin belum banyak orang yang mengetahui apa itu ikan jurung. Tetapi bagi masyarakat khususnya etnis Batak dan pembudidaya ikan air tawar, ikan ini sudah dikenal secara luas. Hal ini disebabkan karena, konon ikan tersebut pada masanya dahulu merupakan makanan khas yang hanya diperuntukkan bagi raja-raja Batak. Jadi wajar saja apabila masih banyak orang yang belum atau kurang mengenal ikan yang satu ini.
Namun siapa sangka, di balik kurang familiarnya hewan air tawar itu di mata masyarakat, ternyata ikan ini justru memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Soalnya, harga jualnya dipasaran terbilang fantastis karena mahalnya.
Josep Ginting, Ketua Kelompok Tani Perikanan Tata Resada Desa Birubiru, Kabupaten Deliserdang yang juga merupakan pembudidaya ikan jurung satu-satunya di desa tersebut mengungkapkan, harga jualnya dipasaran mencapai di atas Rp 200.000 per kg nya. Hal yang mustahil dapat dicapai ikan air tawar jenis lainnya.

“Ikan jurung ini harganya memang fantastis. Harga jual per kilogramnya saja berkisar antara Rp 200.000 – Rp 250.000. Malah apabila beratnya telah mencapai 2 kg, harganya pun bisa mencapai Rp 350.000,” ungkapnya kepada MedanBisnis, Sabtu (15/2).

Josep menjelaskan, tingginya harga jual ikan jurung tersebut tak dapat dilepaskan dari tingginya pula tingkat kesulitan dalam melakukan budidaya pembesaran pada ikan ini. Sebab sebagai habitat liar, ikan ini disebut-sebut hanya dapat hidup dalam air memiliki mata air yang terus mengalir sepanjang hari, seperti sungai.

“Dalam upaya pembudidayaannya juga tidak bisa sembarangan. Apalagi, pengetahuan soalnya masih kalangan-kalangan tertentu saja yang mengetahuinya,” jelasnya.

Selain itu, dalam upaya memperoleh bibitnya pun Josep mengatakan sangat sulit. Sebab, hingga saat ini, khususnya di Sumatera Utara (Sumut) belum ada satupun pembudidaya yang diketahui telah berhasil melakukan pengembangbiakannya.

Sehingga, pasokan bibit kepada peternaknya masih terus bergantung pada hasil tangkapan dari alam saja.

“Untuk lokasi di mana keberadaannya pun juga saat ini tidak banyak. Soalnya, hanya sungai-sungai tertentu saja yang sekarang masih dapat ditemukan ikan jurung ini. Yang pastinya sungai itu harus jernih dan tidak tercemar,” terangnya.

Sebagai pembudidaya ikan jurung, Josep sendiri mengaku masih tergolong pemula. Itulah mengapa dikatakannya, hingga saat ini ia hanya mampu melakukan budidaya pembesarannya saja, bukan sebagai pembudidaya pengembangbiakan.

“Di kolam, saat ini ikan jurung yang sedang saya budidayakan ada sebanyak 1.000 ekor. Namun masih hanya upaya pembesaran saja, belum sampai pada pengembangbiakannya. Tetapi untuk bibit saya tidak terlalu kesulitan memperolehnya, sebab saya hanya tinggal menangkapnya langsung di Sungai Seruai Desa Birubiru ini,” sebutnya.

Kepala Bidang Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut, Robert Napitupul juga mengakui bahwasanya ikan ini merupakan jenis ikan yang termasuk sangat sulit untuk dibudidayakan. Sebab untuk beternaknya membutuhkan ongkos produksi yang lumayan besar apabila ingin dilakukan.

“Untuk ikan jurung, di Sumatera Utara memang peternaknya masih belum begitu banyak. Soalnya budidaya ini termasuk sulit untuk dilakukan, serta cost produksinya juga tergolong mahal,” ungkapnya.

Soal pengembangbiakan, Robert mengakui hal itu sebenarnya dapat saja dilakukan peternak layaknya seperti upaya pembesarannya. Asalkan, hal itu didukung oleh teknologi dan tata cara pembudidayaan ikan jurung dengan cara yang tepat pula.

“Asalkan mampu menciptakan rekayasa teknologi, dengan cara menghadirkan kondisi dan situasi sungai, pembudidayaan ikan jurung bisa dilakukan. Tetapi masalahnya, untuk menciptakan rekayasa itu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit,” pungkasnya.

Tak hanya di situ, untuk pengadaan bibitnya juga para peternak pun masih hanya mengandalkan tangkapan di alam lepas. Sebab, untuk pengembangbiakannya budidaya ikan jurung ini jauh lebih sulit daripada melakukan pembesarannya.

“Untuk di Sumut, salah satu kawasan sentranya terletak di kawasan Bahorok, Langkat serta Danau Toba.

Namun di situ, para peternaknya rata-rata masih menggunakan air yang mengalir (sungai dan danau) di tempat tersebut untuk aktifitas peternakannya,” pungkasnya. (Sumber: Harian Medan Bisnis)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.