Grand Champion Kontes Ikan Cupang Slipi Dihargai Rp. 14 Juta

kontes ikan cupang slipi

Sorot mata ratusan pengunjung tampak serius mencermati deretan etalase akuarium. Di kotak kaca berukuran tak ubahnya toples, legok rumbai ekor cupang menari-nari. Siang itu Kontes Ikan Cupang Hias di Sentra Pusat Promosi Ikan Hias (SPPIH) di Jalan KS.Tubun III Dalam, Slipi Palmerah, Jakarta Barat hari itu digelar, Minggu (15/12). ASEP ANANJAYA

SERIT (Crown Tail), Half Moon, Giant, Lavender, Dragon, baik Plakat tampil istimewa. Tubuhnya, sirip dan ekornya begitu menawan. Membuat seluruh pengunjung membelalakan mata. Pantas saja, jika sang juara (grand champion) dihargai sampai Rp 14 juta. Ucok (31) salah satu kontestan, Cupang hias Baby Halfmoon berwarna merah miliknya dipilih sebagai juara pertama hari itu. Pemuda asal Cikunir, Bekasi, Jawa Barat ini mengaku puas menjadi pemenang.

“Memang hadiahnya tidak seberapa, hanya Rp 200 ribu, tapi kan prestise-nya (kebanggaannya),” ujar Ucok, kemarin.

Ia berharap, dengan sering memenangkan kontes, bisa mengorbitkan usaha penjualan dan budi daya ikan Cupang hiasnya meroket ke pasar Internasional. Ia pun yakin, komunitas Cupang hias di lokasi tempat tinggalnya di Cikunir bisa menyaingi popularitas Cupang hias Slipi, Palmerah, Jakarta Barat. Seperti Baby Half Moon yang barusan menang saja, diakui Ucok sudah ditawar pembeli dengan harga Rp 1 juta. Menjadi suatu kebanggaan buat Ucok.

Hasil ternak Cupang hiasnya berkualitas bagus, katanya. “Cupang hias ternakan saya sendiri sedang merambah ke pasar Asia. Tiap bulan kami sudah mulai kirim ke Malaysia, per ekornya dihargai USD 70, cukup lumayan,” ungkap Ucok yang membudidayakan ribuan benih Cupang hias di rumahnya sejak 5 tahun lalu Ketua Koordinator Kontes, Edi Sudrajat me nerangkan, kontes ini terdiri dari komunitas pecinta ikan cupang.

Ter masuk pembudidaya ikan dan pelaku usaha, juga peng-hobby. Ia menjelaskan, gelaran kontes kemarin merupakan kali ketiga digelar. Berun tun sejak 2009, 2012, dan 2013. Pada gelaran pertama dikikutsertakan sebanyak 870 ikan cupang. Gelaran kedua mencakup Liga Jabodetabek sebanyak 520 kontestan ikan cupang. Gelaran ketiga, open (terbuka) untuk seluruh wi layah nusantara, terdiri dari 644 ikan dengan total 60 peserta.

“Ada juga yang dari Singapura, untuk Indonesia umumnya dari pulau jawa, seperti Jakarta, Bandung, Malang, Se marang, juga dari Kalimantan Timur, Sa marinda. Seluruh kontestan terbagi dalam 51 kelas (kategori), diantaranya jenis Cupang Serit, Plakat, Giant, dan Baby,” bebernya.

Edi yang merupakan salah satu dari 7 juri kontestan menerangkan, ikan yang dominan menyabet grand champion dilihat dari klasifikasi warna, form (bentuk badan) mulai dari anal ekor, pin (dorsalsirip punggung), kesehatan fisik, dan gaya. Dari poin-poin itu diakumulasi.

“Jadi kita lihat juga keseimbangan badan sama ekor, ukurannya juga harus simetris. Dari situ, sudah bisa dilihat kesempurnaan keindahan dari warna dan bentuknya,” jelas Edi yang memiliki sertifikasi juri nasional dari Kementerian Perikanan.

Penjualan variatif. Untuk pasar kita kirim untuk daerah Slipi, setiap bulan 15 ribu ekor, dengan harga pasar per ekor Rp 7.500. “Untuk ikan cupang quality harganya bisa Rp 150 ribu, biasanya dilempar per 10 ekor. Kualitasnya ssiap untuk ‘Show’ atau kontes,” katanya. Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat, Eviati mengatakan gelaran kontes ikan cupang ini untuk meningkatkan mutu dan daya tarik pengunjung terhadap peluang usaha budi daya cupang yang cukup menjanjikan.

Dengan adanya kontes ini, Evi berharap masyarakat jadi berlomba-lomba meningkatkan usaha ikan cupang. “Ini untuk merangsang mereka agar lebih giat lagi membuka usaha. Jadi disini kita memfasilitasi,” jelasnya. Disebutkan Evi, wilayah Jakarta Barat sendiri saat ini sedikitnya sudah terbentuk 8 kelompok peternak ikan cupang.

Satu kelompok bisa terdiri dari 15 pelaku usaha. Untuk itu, ia berharap kedepannya SPPIH dapat terus berkembang menjadi satu lokasi pusat pemasaran ikan cupang baik di ibukota, nasional maupun internasional. “Sejak tahun 2004 saja, disini sudah ada 150 pelaku usaha.

Disini juga bisa ada kerjasama dan menjadi tempat bertransaksi bagi setiap pelaku usaha,” ungkap Evi. Ia yakin, sebenarnya kalau usaha ikan cupan ini dilakukan dengan benar, omset yang didapat oleh seorang pelaku usaha dapat maksimal. Diketahui, omset seorang pelaku usaha ikan cupang per bulannya paling sedikit Rp 5-6 juta.

Normal laku per hari antara 20-30 ekor. Selama ini yang menjadi kendala menjaga kualitas cupang hias hanya pada pakan alami yang mengenal iklim. Tapi, jika mengingat sepasang cupang hias induk bisa dihargai Rp 200-300 ribu, kendala itu tidak menjadi masalah.

Sebab, dari induk cupang ini bisa menghasilkan 400 telur dengan prediksi 50 persennya hidup. Di Slipi ini cupang kualitas berjenis Serit, Half Moon dan Plakat.

“Produksi memang ada pasang surut. Terutama di musim hujan. Karena pakan alami cupang ini kutu air. Kualitas cupang ini dari situ. Kalau musim hujan, kutu air tidak berkembang biak, tapi kalau kemarau itu bagus, produksi ikan juga meningkat,” ujarnya. Selain itu, kedepannya ia juga sudah koordinasikan ke Pemprov DKI, agar sentra penjualan di Slipi, Palmerah ini terus dikembangkan.

Mulai dari sarana, fasilitas, hingga akses jalan. “Lokasi ini sudah beroperasi sejak 2007. Tapi aksesnya saja masih sulit, kalau sudah diperluas nantinya tidak hanya hanya ikan Cupang, bisa juga Arwana,” ujarnya. Dadang Wijaya (43), benar-benar tak bisa berkata-kata. Sampai kini ia pun masih terus bertanya, kenapa begitu menggilai Cupang.

“Saya juga sulit gambarkan, cupang ini punya keunikan sendiri. Keindahannya begitu istimewa, apalagi ditempatkan di akuarium cantik, bentuknya semakin menawan,” ujarnya. Dadang terkenal sebagai pemborong ikan Cupang hias.

Bahkan di tahun 2001 silam, ia berani membayar Cupang Serit Hitam, pemenang kontes seharga Rp 7 juta. “Gimana gak, seluruh pengunjung saat itu menjagokan cupang itu, saya sampai terpesona dibuatnya, makanya uang segitu gak seberapa, puas saja bisa membawanya ke rumah,” jujurnya. Dadang berujar, Cupang hias Slipi ini tak kalah dengan cupang impor Thailand maupun Singapura. Bentuk dan warnanya khas, karena di Indonesia ini hidupnya alamiah.

Cara beternaknya pun terbilang mudah. Dengan pakan alami yang tidak terlalu sulit didapat. “Perawatan nya simple, gak masalah kalau ditinggal bepergian ke luar kota. Pemberian makannya bisa kita tunda. Cupang kuat untuk 3-4 hari tidak makan. Itu yang mebuat hobby ini cocok untuk berbagai kalangan,” bebernya. (Sumber : Indopos)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.