Cuaca Ekstim, Pembudidaya Ikan Cirata Panen Lebih Awal

Nila wanayasa II

Ribuan petani dan peternak ikan di Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terpaksa memanen ikan peliharaan mereka lebih cepat meski sebenarnya belum memasuki musim panen ikan. Keputusan itu mereka ambil untuk menghindari kerugian lebih besar akibat banyaknya ikan yang mati karena pengaruh cuaca ekstrim.

Sebagaimana diketahui, selama sepekan terakhir, ratusan ton ikan milik para petani di Waduk Cirata mati seketika akibat cuaca ekstrim yang menerjang wilayah tersebut. Akibat musibah tersebut, para petani pun mengalami kerugian hingga puluhan miliar rupiah.

Salah seorang petani ikan di Kampung Cibogo, Desa Nyenang, Kecamatan Cipeundeuy, Tata Tamami (54) mengatakan para petani di Waduk Cirata terpaksa memilih untuk memaneng lebih awal ikan-ikan yang mereka tanam di ribuan jaring apung guna menghindari serangan cuaca buruk seperti yang terjadi selama sepekan terakhir.

Menurut dia, para petani tak ingin menanggung resiko dan kerugian lebih besar dengan tidak memanen berbagai jenis ikan yang tersisa di kolam atau jaring-jaring apung milik para petani. Jika tetap dibiarkan di dalam kolam, dikhawatirkan ratusan ton ikan yang tersisa akan kembali mati sia-sia dan tidak bisa dijual.

Dijelaskannya, setelah ratusan ton ikan mati pada minggu lalu, rata-rata ikan milik petani yang tersisa di jaring apung hanya sekitar 10 hingga 20 persen. Untuk menyelamatkan ikan yang masih bertahan hidup, para petani pun memilih untuk segera memanen ikan sebelum cuaca ekstrim kembali menerjang dan mematikan ikan-ikan yang ditanam petani.

“Ikan yang tersisa itu, terpaksa dipanen juga meski belum waktu panen. Kalau mati lagi, kami mau makan apa, pasti akan rugi besar,” kata Tata saat ditemui Tribun di Waduk Cirata, Minggu (20/1).

Untuk siap panen dan dijual, berbagai jenis ikan yang ditanam petani di jaring apung seperti ikan mas, nila, tawes dan lainnya, setidaknya memerlukan waktu sekitar empat bulan. Sedangkan ikan yang tersisa di kolam dan jaring apung rata-rata baru berusia sekitar 1 hingga 3 bulan.

“Seharusnya jadwal panen itu jatuh pada bulan Februari atau Maret. Tapi daripada tidak dapat dipanen dan dijual sama sekali, lebih baik kami panen lebih awal,” jelas pria berkulit gelap ini. (Sumber : Tribun)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.