Budidaya Minapadi Akan Diperluas

minapadijajarlegowo

Pemerintah targetkan perluasan budidaya minapadi mencapai 250.000 hektar (Ha) pada 2013. Dari target yang sudah ditentukan, telah tercapai 156.000 Ha. Adanya peningkatan luas area minapadi ini karena peningkatan konsumsi ikan per kapita yang meningkat dari tahun 2011 yaitu 30 kg/kapita menjadi 32 kg/kapita pada 2012.

“Konsumsi meningkat pada 2011 konsumsinya 30kg/perkapita menjadi 32kg/perkapita pada 2012. Harapannya bisa meningkat lagi di tahun ini. Saya yakin betul meningkat,terlihat dari hasil budidaya belum ada tingkat kejenuhan seperti pada produksi lele tahun-tahun sebelumnya banyak yang mengeluhkan penjualan susah dan harga turun.

Pada tahun ini belum ada laporan seperti itu, artinya konsumsi domestik meningkat,” jelas Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB), di Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (26/4).

Lebih lanjut lagi, Slamet menceritakan beberapa daerah yang disosialisasikan sebagai daerah percontohan minapadi yaitu di Banjarnegara, Sukabumi, Padang.

Tahun ini ditambah lagi daerah untuk sosialisasinya yaitu Temanggung, Banten, Sragen, Malang, Nusa Tenggara Timur dan beberapa tempat lagi. Daerah yang menjadi sasaran budidaya minapadi adalah persawahan yang memiliki irigasi cukup baik hal ini dikarenakan padi yang ditanampun jenis khusus yaitu inpari 13 yang dapat bertahan di dalam air sampai masa panen.

“Daerah yang akan menjadi minapolitan ada tujuh kecamatan yaitu Parakan, Wonoboyo, Candiroto, Temanggung, Tlogo, Tembarak, dan Selopampang Kedu. Masyarakat disini memang 70% berbasis pertanian,” jelas Bambang Dewantoro, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Temanggung.

Sementara itu, Slamet menyatakan minapadi ini meningkatkan pendapatan petani. Dia menghimbau agar petani tidak khawatir padinya berkurang karena justru dengan mengurangi sedikit lahannya justru meningkatkan pendapatan. Saat ini jenis ikan yang dibudidayakan pada minapadi adalah ikan nila, gurame, dan udang galah.

“Nanti kita akan kembangkan ugamedi (udang galah gurame padi). Perhektar 1,2 ton ikan dipanen dalam sekali panen setiap 3 bulan sekali, jelas ini sangat menguntungkan petani,” ujar Slamet.

Saat ini ada beberapa kendala yang dialami pihaknya seperti kurangnya sosialisasi, banyak petaniyang masih takut program budidaya ini akan menurunkan produksi padi. Karenanya pemerintah tengah gencar memperbanyak percontohan minapadi kepada masyarakat petani dan pemerintah juga telah mendapat dukungan permodalan dari perbankan yaitu BRI, BNI, Mandiri dan bank daerah ikut turut serta.

“Dengan semakin banyaknya sosialisasi, dan dukungan berbagai pihak, saya yakin akan meningkatkan pendapatn petani dan tidak merugikan padinya sendiri nantinya padi yang dihasilkan juga kualitas organik yang tidak menggunakan pestisida. Budidaya ini juga akan hasilkan 2 jenis untuk pasar, yaitu benih dan un tuki konsumsi,” jelas dia.

Selanjutnya, Slamet juga menyatakan bahwa Forikan ini dapat dikatakan satu paket dengan program minapadi. Karena menurutnya, dalam hal ini mengembangkan industrisasi yaitu menyediakan sumber bahan bakunya dari minapadi,termasuk pengembangan kolam.

“Dengan naiknya konsumsi, pembudidaya juga semakin tertarik untuk meningkatkan produksi. KKP terutama sektor perikanan budidaya selain mengembangkan minapadi dan ugadi akan melakukan pengembangan budidaya minapolitan, dan industrisasi, Semua perairan umum akan digunakan untuk pembudidayaan ikan. Prinsipnya ada air ada ikan yang akan meningkatkan pendapatan dan konsumsi,” jelas dia.

Omzet Besar

Sebelumnya, Slamet juga mengatakan, program Minapadi sudah cukup lama dikembangkan pemerintah. Kini pemerintah melalui kembali menggalakkan program Minapadi yang dipadu dengan budidaya udang galah. Program ini disebut Ugadi dengan mengoptimalkan fungsi lahan sawah irigasi.

Potensi omset usaha Ugadi lebih besar dibandingkan dengan usaha minapadi dengan komoditas lainnya. “Omset kegiatan usaha ini mencapai puluhan juta rupiah,” ungkap Slamet dalam keterangan resmi yang dikutip Neraca, belum lama ini.

Slamet menjelaskan, program Ugadi pada prinsipnya tidaklah berbeda dengan usaha minapadi dengan komoditas ikan mas dan ikan nila yang telah dilakukan oleh pembudidaya. Bedanya hanya pada komoditas yang dibudidayakan yakni udang galah.

Minapadi yang dilakukan pada model Ugadi ini adalah minapadi dengan konsep minapadi tumpang sari yaitu dengan menanam padi kemudian setelah umur padi 10 hari barulah dilakukan penebaran benih udang galah dengan kepadatan tebar 5 ekor per meter persegi.

Benih padi yang ditanam adalah benih padi INPARI 13 atau INPARA 5. Keunggulan jenis padi ini adalah tahan terhadap genangan air selama pemeliharaan dan juga memiliki masa pemeliharaan tidak jauh berbeda dengan udang galah.

“Pemilihan bibit padi yang tidak jauh berbeda masa pemeliharaan ini dimaksudkan agar pembudidaya dapat menikmati hasil yang berlipat karena memiliki dua pendapatan dari penen udang galah dan tanaman padi,” jelasnya. (Sumber : Neraca)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.