Budidaya Ikan Koki Tetap Menjanjikan

ikan mas koki

Memelihara ikan hias bisa membantu menurunkan tingkat stres seseorang. Gerakan ikan dan warnanya yang cantik dapat menyegarkan pikiran kita.

Salah satu ikan hias yang cukup diminati adalah ikan Koki. Lantaran, ikan ini secara fisik memiliki bentuk yang lucu, perut yang bulat, mata belo dan warna yang terang, membuat ikan Koki menjadi salah satu primadona bagi penggemar ikan hias.

Adalah Sunaryadi, pria asal Yogyakarta yang jeli menangkap peluang bisnis dari beternak ikan hias, utamanya ikan Koki.
Awal mula ia terjun sebagai peternak ikan hias, ia melihat prospek ikan hias di Yogya cukup menjanjikan.
Lantaran, kebutuhan ikan hias di Yogya selama ini, sebanyak 80 persen masih disuplai dari luar, khususnya Tulungagung, Jawa Timur.

“Untuk peternak dari Yogya sendiri baru bisa mencukupi sekitar tujuh persen, sisanya dipasok dari luar. Peluang inilah yang membuat saya yakin terjun di bisnis ikan hias,” ujar Sunaryadi saat ditemui ditempat budidaya ikan Koki di Jalan Bantul, Kamis (3/3).

Menurut Sunaryadi, ikan hias hasil budidaya peternak Yogya memiliki keuntungan sendiri bila dibanding ikan hias pasokan dari luar Yogya. Salah satunya tingkat hidup ikan hias asal Yogya lebih panjang, sebab ikan tak perlu menyesuaikan lagi dengan kondisi air.

Selain itu, tingkat stres ikan akan berkurang, karena jarak tempuh distribusi ikan relatif lebih dekat.

“Kenapa ikan Koki di kalangan penggemar ikan hias terkenal gampang mati, salah satunya karena ikan itu kan datang dari luar Yogya, harusnya disterilisasi dulu biar menyesuaiakan diri dan bebas dari penyakit, tidak langsung dijual,” ungkap Sunaryadi.

Sebelumnya fokus budidaya ikan Koki, Sunaryadi sempat budidaya ikan Cupang. Sejak tahun 1998 hingga 2006, beternak ikan Cupang cukup menjanjikan, sebab sempat mengalami booming.

“Tapi akhirnya saya lebik srek ke ikan Koki, penanganan lebih enak, mudah, didukung saya ada lahan sekitar 300 meter persegi,” ungkap Sunaryadi.

Saat ini, Sunaryadi memiliki 14 kolam tempat budidaya ikan Koki. Masing-masing kolam berukuran sekitar 2×1,5 meter. Di kolam-kolam inilah ikan Koki dibudidayakan.

Meskipun saat ini ia bisa memproduksi sekitar 1000-1500 ekor perbulan, namun belum bisa memenuhi permintaan pasar di Yogya.

“Bulan kemarin cukup banyak permintaan, dan saat stok ada bisa sampai 4000 ekor,” katanya.

Biaya pemeliharaan ikan Koki ternyata tidak mahal. Untuk saat ini dengan kondisi sekitar sembilan kolam yang aktif, per bulan Sunaryadi hanya menghabiskan sekitar Rp 200 ribu untuk biaya makan. Keuntungan bersih yang ia dapat per bulannya berkisar Rp 2-3,5 juta.

“Agar terus bisa memenuhi permintaan pasar, saya kerjasama dengan peternak lain, kalau sendiri nanti bisa terputus, karena untuk siap jual, ikan harus minimal berumur lima bulan,” terangnya.

Untuk yang ingin beternak, menurut Sunaryadi, sebaiknya menyiapkan, tempat untuk pemijahan telur berukuran minimal 1×2 m dengan ketinggian air 25 cm.

“Untuk satu set induk, satu betina dua jantan. Ada juga yang ombyokan. Lebih bagusnya satu betina dua jantan, biar gampang mengingat keturunannya. Misalnya keturunan pertama (F1) , untuk memperbaiki bentuk, bisa sampai F5,” terangnya.

Sunaryadi melanjutkan, untuk media bertelur, bisa menggunakan tali rafia atau enceng gondok. Biasanya sore dicampur, bila lancar, esok harinya sudah bertelur, lalu indukan diambil.

“Anak ikan tetap dibesarkan di kolam itu. Umur 3 hari mulai dikasih makan daphnia atau kutu air. Sampai 1,5 minggu. Lalu, mulai dikasih cacing sutra sampai umur 1-1,5 bulan. Setelah itu disortir, pisahkan keturunan yang bagus,” jelas Sunaryadi.

Menurut Sunaryadi, ada beberapa kriteria yang menentukan ikan Koki bagus atau tidak. Pertama dari side view, bentuk tubuh tidak cacat, sirip tegak, dengan sudut kemiringan tubuh dan ekor sekitar 65 derajat.

Sementara itu dilihat dari top view, pada pinsipnya ikan harus seimbang, mulai dari kombinasi warnanya, hingga bentuk tubuh yang proposional.

“Semakin sempurna ikan Koki akan semakin mahal, larinya nanti bisa ke kontes. Sayangnya di Yogya sendiri peminat kontes ikan Koki masih minim,” ungkap Sunaryadi.

Budidaya ikan Koki milik Sunaryadi tak lantas berjalan mulus-mulus saja. Ia pun pernah menangguk rugi jutaan rupiah akibat hujan abu Gunung Merapi tahun 2010 silam.

“Kalau yang abu Kelud sudah ada caranya, kolam harus cepat dikuras. Penyakit juga banyak, kutu air, argulus, kutu piring, cacing jangkar,¬†white spot yakni bintik putih di sekujur tubuh, red spot yang paling berbahaya aeromonas, ikan cepat mati, sirip ikan bisa habis, kayak digrogoti. Bisa serang insang bagian dalam,” terangnya. (Sumber : Tribun Jogja)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.