Aseng Manfaatkan Gravitasi Untuk Budidaya Ikan Kerapu

Budidaya Ikan Kerapu Gravitasi

Budidaya udang tidak lagi menjanjikan untuk dikembangkan di Sumatera Utara (Sumut). Tingginya serangan penyakit membuat banyak petambak udang meninggalkan usaha tersebut. Lahan-lahan dibiarkan begitu saja oleh si pemiliknya.

Namun, tidak demikian dengan Effendy atau yang akrab disapa Aseng. Di tangannya, lahan bekas tambak udang disulap menjadi tempat budidaya ikan-ikan berkelas ekspor, seperti budidaya ikan kerapu.

Sepintas orang akan beranggapan, budidaya ikan laut yang dikelola Aseng seluas lebih kurang 27 hektare di Desa Pantai Cermin Kiri, Dusun IV Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara menghabiskan dana antara puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Sebab, kolam-kolam yang menghubungkan air laut tersebut didesain dengan teknologi sedemikian rupa.

Air laut yang masuk ke dalam kolam dihubungkan dengan pipa paralon berdiameter besar, antara kolam yang satu dengan kolam yang lain. Tiap kolam dipasang pipa pemasok air laut ke dalam kolam dan pipa untuk air keluar. Namun, sejujurnya desain teknologi yang digunakan Aseng adalah teknologi sederhana dengan memanfaatkan energi alam. Yakni, teknologi gravitasi, yang ramah lingkungan plus berbiaya murah.

“Teknik gravitasi berarti memanfaatkan kekuatan alam dalam mensuplai oksigen ke dalam kolam di saat air pasang terjadi. Dengan begitu, oksigen yang dibutuhkan ikan dengan sendirinya terpenuhi tanpa melalui mekanisasi seperti kincir air yang menelan biaya tinggi,” aku Aseng, selaku Komisaris CV Anugerah Maritim Lestari dalam perbincangannya saat MedanBisnis berkunjung ke lokasi pembudidayaan ikan laut yang dilakukannya, di Desa Pantai Cermin, belum lama ini.

Dalam sehari, jelas Aseng, air pasang terjadi dua kali. Ketika pasang terjadi, air akan masuk ke dalam kolam dan keluar di saat air surut. Dan, masyarakat pesisir Sumatera Utara (Sumut) diuntungkan dengan keberadaan Selat Malaka yang begitu dekat.

Selat Malaka punya perbedaan pasang lebih besar antara 2–4 meter daripada pantai barat yang hanya berkisar 1–1,5 meter. “Ini yang tidak diperhatikan masyarakat pesisir kita,” akunya.
Masyarakat pesisir, kata dia, tinggal membuat kolam-kolam yang dekat dengan laut kemudian memasangkannya dengan pipa paralon ataupun bambu sebagai pintu masuk dan keluarnya air laut. Sedangkan benihnya, para nelayan tinggal menangkapnya di laut saat musim ikan tiba untuk kemudian dibesarkan di kolam yang telah disediakan tadi. Dengan pembesaran 5–6 bulan, mereka sudah bisa menjualnya dengan harga tinggi.

Teknik budidaya perikanan laut dengan gravitasi merupakan hasil penelitiannya selama kurang lebih empat tahun. Dan, hasilnya dapat menghemat biaya kerja hingga 60%. “Cara ini sudah saya sosialisasikan ke sebagian masyarakat pesisir yang ada di Sumatera Utara seperti Belawan dan Pantai Cermin serta masyarakat nelayan di Aceh,” aku pria kelahiran Nias ini.

Budidaya ikan laut yang ditawarkannya ke masyarakat nelayan memang sengaja didesain low cost atau biaya rendah mengingat kemampuan modal masyarakat nelayan yang sangat-sangat terbatas.

Apalagi, lembaga perbankan sulit mencairkan pinjaman ke sektor kelautan. Dengan alasan risiko tinggi. “Teknologi yang saya tawarkan ini sangat mudah dan murah. Tinggal bagaimana kemampuan nelayan itu untuk melakukannya,” akunya.

Selama ini, lanjut Aseng, kegemaran nelayan adalah menangkap bibit atau anakan ikan kerapu untuk dijual seharga Rp 2.500 per ekor. Padahal, dengan pembesaran ikan katakanlah 6 bulan, ikan sudah bisa dijual seharga Rp 30.000 per ekor dengan berat ikan sekitar 500 gram atau setengah kilogram.

Untuk biaya pembesaran ikan sendiri, menurut dia, tidak mahal. Sebab, nelayan bisa mencari sendiri ikan rucah di laut atau membelinya dari nelayan. (Sumber : Medan Bisnis Daily)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: budidayaikan View all posts by

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.